Sedikitnya 100 orang massa yang tergabung dalam Solidaritas Masyarakat untuk Demokrasi Kabupaten Morowali, menggelar aksi unjukrasa di kantor Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah, mendesak agar pihak pengadilan membatalkan hasil Pilkada Morowali yang berlangsung 5 November 2007 lalu.
Aksi unjukrasa itu sendiri dilaksanakan, bertepatan dengan berlangsungnya sidang gugatan pasangan calon Bupati Morowali, Caheruddin Zen dan Aminullah BK terhaap KPU Morowali.
Desakan pembatalan itu, karena mereka menilai bahwa hasil Pilkada tersebut tidak demokratis dan penuh kecurangan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Morowali dinilai berpihak pada pasangan Anwar Hafid - SU Marunduh dan memenangkan mereka.
Selain berorasi di depan kantor Pengadilan Tinggi Sulteng di Jalan Mohammad Yamin Palu itu, unjukrasa yang dipimpin M. Zulfikar itu juga mendesak Gubernur Sulawesi Tengah agar menolak hasil perhitungan dan penetapan suara yang diselenggarakan KPUD Morowal tanggal 13 November 2007.
Mendesak Gubernur Sulteng agar menolak pelantikan kandidat yang terpilih pada perhitungan suara versi KPU Morowali sebelum adanya kejelasan mengenai proses hukum.
Para pengunjukrasa juga mendesak Kepala Kejaksaan Tinggi Sulteng untuk melakukan proses hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada pelaksanaan Pilkada di Morowali.
"Kami juga meminta agar pihak Kejati Sulteng segera memanggil Ketua KPU Morowali terkait dengan keputusannya yang dinilai telah melanggar undang-undang," tegas Zulfikar.
Para pengunjukrasa itu kemudian membeberkan beberapa fakta kecurangan itu. Antara lain di TPS 2 Desa Kolo Atas, Kecamatan Mamosalato, telah terjadi penjoblosan surat suara tanggal 4 November 2007, padahal Pilkada baru akan dilaksanakan tanggal 5 November 2007.
Di tempat itu juga sebanyak 107 lembar kertas suara dibawa ke TPS dengan menggunakan kantong plastik warna putih sebagai kotak suaranya. Itu dilakukan oleh petugas KPPS dan Sekretaris Desa Kolo Atas.
"Ini jelas sangat bertentangan dengan pasal 104 ayat 2 huruf a Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 tentang Pemerintahan Daerah," kata Zulfikar.
Sementara itu, pihak KPU yang diwakili para kuasa hukumnya menyatakan bahwa KPU Morowali telah menjalankan tugas sesuai kewenangan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 junto PP Nomor 6 tahun 2005.
"Itu artinya bahwa KPU telah bekerja sesuai aturan hukum yang berlaku, yang dimulai dari menyusun jadwal pilkada hingga penghitungan. Dan tidak ada kesalahan pada proses itu," tegas Andi Makassau, kuasa hukum KPUD Morowali.
Pada Pilkada Morowali itu, pasangan Anwar Hafid - SU Marunduh yang diusung Koalisi Pembaharuan (Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD) dan Partai Bulan Bintang (PBB) ditetapkan sebagai pemenang dengan meraih suara sebanyak 26.271 suara atau 25,76 persen.
Sedangkan pada urutan kedua adalah pasangan Caheruddin Zen - Aminullah yang hanya terpaut 306 suara dari pasangan Anwar Hafid - SU Marunduh.
Calon yang diusung Koalisi Reformasi Bangkit Bersatu (Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Bintan Reformasi) ini mengumpulkan 25.965 suara atau 25,46 persen.
Sementara itu, kandidat PDIP, Datlin Tamalagi-Djaidin Rompone, meraup 22.116 suara (21,69 persen), serta pasangan Zainal Abidin Ishak - RO Marunduh yang diusung Partai Golkar hanya meraih 18.424 suara (18,07 persen).
Pasangan Muhammad Ilyas Mekka-Atha Mahmud dari Koalisi Rakyat Morowali (Partai Amanat Nasional, Partai Demokrat, Partai Keadilan Persatuan Indonesia dan Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan) hanya mendapat 9.195 suara (9,02 persen).
Total suara sah sebanyak 101.971 dan sebanyak 1.571 kartu pemilih yang sudah dicoblos dinyatakan tidak sah. Sementara pemilih terdaftar yang tidak menyalurkan haknya mencapai 14.843 orang atau 12,54 persen dari 118.385 total pemilih terdaftar.***
Thursday, November 29, 2007
Thursday, November 22, 2007
Pelo, Pria Tuna Grahita Parigi Peraih Medali Emas di Sanghai

"Parigi… Mariama… Parigi… Mariama," begitulah teriakan Pelo ketika memasuki arena pertandingan softball di Sanghai China tahun 2006 silam. Bagi Pelo, dua kata itu memiliki arti yang sangat penting dalam hidupnya.
Parigi adalah daerah kelahirannya, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Sedangkan Mariama, adalah nama ibunya yang telah membesarkannya setelah ditinggal meninggal oleh ayahnya.
Bicaranya tak jelas. Air liur selalu membasahi mulutnya. Itu adalah Muhammad Rizal alias Pelo. Terlahir dari pasangan Mariama dan Hasanuddin Ndue ini, adalah putera kelahiran Parigi 11 Maret 1984.
Pelo, adalah salah seorang penyandang cacat mental atau tuna grahita. Tapi, di balik itu semua, ia memiliki prestasi luar biasa.
Pelo berhasil menyumbangan medali emas dan perunggu bagi Indonesia pada Olimpiade Tuna Grahita Dunia atau special Olympics World Summer Games XII di Sanghai, 2006 silam. Ia bertanding pada cabang olahraga softball. Ia berhasil menyisihkan atlet dari Mauritania, Jerman dan Kosta Rika.
Kepada The Jakarta Post, Rabu (21/11) di rumahnya Kelurahan Maesa, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Pelo menceritakan, ia tak peduli dengan cuaca dingin dan angin kencang saat bertanding pada saat itu.
Ia tetap percaya diri, sembari membusungkan dada, ia melambaikan tangannya ke arah penonton dan berteriak “Parigi.....Mariama....Parigi....Mariama....”
“Saya jadi semangat setelah bilang nama Parigi dan mama. Saya tidak takut lagi dan saya menang. Saya dapat medali emas dan perunggu,” kata Pelo yang diterjemahkan oleh ibunya, Mariama.
BUAH KESABARAN SANG BUNDA
Saat Pelo masih berusia 10 tahun, ayahnya Hasanuddin Ndue meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalulintas di kapungnya. Saat itulah dengan penuh kesabaran, ibunya membesarkan dan mendidiknya.
Meski mengalami seorang penyandang tuna grahita, tapi Ny. Mariama (41) terus mendidiknya. Dengan penih kesabaran, ibunya mengajari membaca dan menulis. Usahanya itu membuahkan hasil. Dalam waktu yang tak terlalu lama, Pelo pun bisa membaca dan menulis.
“Kadang saya menangis kalau sudah mengajarkannya membaca dan menulis. Tapi saya selalu sabar dan terus berdoa, agar Pelo diberikan kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh anak lain,” kata Mariama.
Mariama tak kehabisan akal. Ia berpikir bahwa kalau diajarkannya sendiri di rumah, mungkin Pelo tidak bisa sukses. Agar putranya itu berprestasi, ia pun mengirim Pelo ke Panti Sosial Bina Grahita di Palu. Dan hampir seminggu sekali, ibunya berangkat ke Palu untuk memantau perkembangan anak pertamanya dari empat bersaudara itu.
Di situlah kemampuan Pelo diasah. Ia meraih juara pertama pada Pekan Olahraga Penyandang Cacat tingkat Provinsi Sulteng. Kemudian mewakili daerah ini pada Pekan Olahraga Nasional Penyandang Cacat (Pornas) V tahun 2006.
Karena meraih medali emas pada Pornas V itu, akhirnya dipercaya mewakili Indonesia pada Olimpiade Tuna Grahita Dunia atau special Olympics World Summer Games XII di Sanghai, China 2006.
BUPATI BANGGA
Bupati Parigi Moutong, Longky Djanggola bangga dengan prestasi Pelo. Ia pun diberikan penghargaan dan bonus. Bahkan disambut dengan menggelar open house di kediaman bupati.
“Ini menjadi bukti, bahwa janganlah kita menilai seseorang itu cacat. Tapi di balik cacatnya itu, tersimpan rahasia Tuhan yang kita tidak tahu. Buktinya, meski pun cacatr mental, tapi Pelo berhasil membawa nama baik Parigi Moutong dan Indonesia,” kata Bupati Parigi Moutong, Longky Djanggola.
“Ini sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi Parigi Moutong dan Pelo pantas mendapat penghargaan atas semuanya itu,” tambah Longky Djanggola.***
Wednesday, November 21, 2007
Pertumbuhan Ekonomi Sulteng Membaik

Perekonomian Sulawesi Tengah saat ini cenderung mengalami perubahan dibanding sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah melaporkan, pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun 2006 mencapai 7,9 persen, meningkat dibanding tahun 2005 yang tercatat sebesar 7,57 persen.
Kepala BPS Sulawesi Tengah, Bambang Suprijanto di Palu, Rabu (21/11), menjelaskan, kondisi tersebut dengan didukung kemampuan ekspor dan penawaran ekonomi dari semua sektor ekonomi, menunjukkan bahwa Sulawesi Tengah telah berada pada fase development.
Menurut Suprijanto, kemampuan ekonomi Sulteng ditinjau dari Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2006 atas dasar harga berlaku mencapai 19.331.706 juta rupiah, meningkat dibanding tahun 2005 yang hanya 17.089.580 juta rupiah, tahun 2004 hanya 14.659.017 juta rupiah dan tahun 2003 hanya sebesar 13.013.148 juta rupiah.
Tercatat, ada empat sektor yang mendominasi kehidupan perokonomian Sulawesi Tengah, yakni sektor pertanian, perdagangan, hotel dan restoran serta jasa-jasa dan sektor industri pengolahan.
Sektor pertanian masih merupakan tumpuan kehidupan perekonomian daerah ini. Tapi, menurut Bambang Suprijanto, peranannya mengalami penurunan dari 45,65 persen tahun 2005 menjadi 45,32 persen pada tahun 2006. "Walau mengalami penurunan, tapi sektor ini masih tetap memberikan andilnya terhadap PDRB Sulteng," katanya.
Kemudian sektor jasa berada pada posisi kedua yang memberikan peranan sebesar 14,74 persen. Angka ini juga mengalami penurunan dibanding tahun 2006 yang berada pada angka 14,84 persen.
Bambang Suprijanto jga menjelaskan, jika dilihat dari PDRB per kapita berdasarkan harga berlaku, sebagian besar PDRB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga.
Pada tahun 2006 besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga ditambah lembaga non profit mencapai 12.125.259 juta rupiah atau menyerap sekitar 62,72 persen dari total PDRB Sulawesi Tengah, yakni 19.331.706 juta rupiah.
PDRB KABUPATEN DONGGALA TERBESAR
Kepala BPS Sulteng mengatakan, dari 10 kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah, Kabupaten Donggala merupakan wilayah yang memiliki PDRB terbesar. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2006 ini sebesar 3.729.071 juta rupiah atau 19,52 persen.
Di posisi kedua terbesar adalah Kabupaten Parigi Moutong 3.462.071 juta rupiah atau 18,12 persen, dan Kota Palu dengan nilai PDRB sebesar 3.324565 juta rupiah atau 17,40 persen. Sedangkan Kabupaten Tojo Una-Una merupakan wilayah dengan PDRB terkecil, yang hanya 362.679 juta rupiah atau sekitar 2,95 persen.
"Tapi, dari sisi pertumbuhan tahun 2006, seluruh kabupaten dan kota di Sulteng mengalami pertumbuhan positif," kata Bambang Suprijanto.***
Poso Mulai Bangkit

Pagi itu jam masih menunjukkan pukul 08.00 Wita. Tapi panasnya matahari
itu tak ketulungan. Berjalan kaki dari sebuah penginapan di Poso Kota
menuju Pasar Sentral, cukup membuat aku berkeringat.
Lulintas di pagi yang cerah itu sangat ramai. Aktivitas warga di depan
Pasar Sentral Poso Kota pun begitu ramainya. Warung-warung makan yang
berderet rapi di seberang jalan depan pasar yang pernah diledakan bom
itu juga tampak ramai.
Satu dua mobil mikrolet warna kuning terlihat menurunkan penumpang dan
barang dagangan mereka. Pemandangan lain, terlihat begitu jelas satu
dua anak berseragam putih abu-abu (yang mungkin baru berangkat sekolah)
berjalan kaki di sela-sela mobil mikrolet yang sedang parkir menunggu
penumpang.
Dari sudut yang berbeda, anggota Polri di markasnya yang hanya berjarak
sekitar 10 meter dari pasar Sentral Poso, keluar masuk melalui pintu
gerbang. Terlihat pula ada sekitar enam polisi berpangkat brigadir dan
seorang perwira berpangkat Ajun Komisaris, setia di pos penjagaan pintu
masuk Polres.
Sekitar 20 meter dari Polres ke arah Selatan, ada sekitar 15 orang
dewasa sedang duduk di sebuah bangku panjang di depan sebuah hotel, yang
juga menjadi agen sebuah mobil bus jurusan Poso-Palu. Ya...mereka sedang
menunggu keberangkatan mobil bus itu menuju Palu. Sangat ramai situasi
di pagi yang cerah itu.
"Kita mau ke Palu. Mungkin mobilnya berangkat jam 10. Sekarang lagi
jemput penumpang lain," kata M. Sunusi (34), salah seorang calon penumpang
bus itu.
Suasana itu sangat kontras dengan tahun 2006 lalu. Dimana pada saat
itu, suasana memang ramai, tapi ketakutan masih tetap menyelimuti warga
Poso. Ketakutan, karena masih ada sekelompok warga sipil, yang menebar
teror dan kekerasan di wilayah itu. Wajah-wajah penuh curiga pun masih
terpancar jelas dari raut mereka.
"Itu suasana dulu. Sekarang sudah mulai membaik. Warga sudah berbaur.
Kesenian tradisional yang sempat tak lagi punya tempat di Poso Kota,
sudah bisa mendapatkan ruang lagi," kata Amir Kiat, juru bicara Pemerintah
Kabupaten Poso, kepada The Jakarta Post, Minggu (18/11) lalu.
PERKEMBANGAN EKONOMI, BUKTI GELIAT POSO
Denyut ekonomi di Kabupaten Poso mulai menggeliat lagi. Ekonomi masyarakat terus brkembang. Itu dapat dilihat dari Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Poso yang setiap tahun mengalami peningkatan.
Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah melaporkan, PDRB per kapita Kabupaten Poso, tahun 2006 meningkat tajam, yakni sebesar Rp7.017.531. Dibanding tahun 2005 yang hanya Rp6.858.674 dan tahun 2004 tercatat sebesar Rp6.018.140.
BPS Sulteng juga melaporkan, PDRB Poso berdasarkan harga konstan (pertumbuhan ekonomi) juga mengalami kenaikan yang sangat signifikan sejak tahun 2002 silam.
PDRB Poso berdasarkan harga konstan tahun 2006 sebesar 7,86 persen. Dibanding tahun 2005 hanya 7,59 persen, 5,64 persen pada tahun 2004 dan 4,47 persen tahun 2003. Padahal, di tahun 2002, PDRB Poso berdasarkan harga konstan itu hanya 1,73 persen.
"Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Poso pasca konflik mulai menggeliat. Dan itu berarti pula bahwa situasi ekonomi sudah mulai membaik," kata Syaiful Rahman, Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sulteng.
Berdasarkan pengertiannya, pendapaan regional merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur keberhasilan pembangunan di suatu daerah, struktur perekonomian, pendapatan per kapita maupun pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
FDP, GELIAT WISATA YANG HILANG
Poso, dulunya dikenal sebagai Surga bagi Sulawesi Tengah. Pasalnya, selain karena sebagai daerah wisata terbaik di Sulteng, juga karena kehidupan malamnya dan pola pergaulan masyarakatnya. Jika orang Jakarta memilih libur akhir pekan ke puncak Bogor dan Bandung, maka orang Sulawesi Tengah memilih Poso untuk mengisi liburan akhir pekannya. Tapi, semua itu sirna karena daerah itu dilanda konflik berdarah sejak tahun 1998 silam.
Kini, konflik telah berakhir. Masyarakat sudah bisa berbaur kembali. Geliat wisata pun kembali terlihat. Bangkitnya pariwisata Poso itu, diawali dengan digelarnya Festival Budaya Poso (FBP) yang sudah dilaksanakan sejak tanggal 13 hingga 16 November 2007 lalu.
Bupati Poso, Piet Inkiriwang, mengatakan FBP itu sebagai pra-kondisi dilaksanakannya Festival Danau Poso (FDP) yang sudah menjadi agenda nasional sepanjang tahun.
FDP itu sendiri terakhir dilaksanakan tahun 2007. Setelah konflik melanda Poso tahun 1998, FDP pun tidak lagi dilaksanakan. Bahkan, cottage yang dulunya begitu indah di tepian Danau Poso di Tentena, Kecamatan Pamona Utara, berubah menjadi tempat penampungan pengungsi.
"Tapi, sekarang kita sudah perbaiki, kita sudah tata lagi untuk persiapan pelaksanaan Festival Danau Poso tanggal 6 Desember 2007 mendatang," kata Bupati Piet Inkiriwang.
Bupati Piet Inkiriwang mengatakan, festival itu merupakan langkah awal mengantar daerah bekas konflik itu menuju kemajuan yang positif. Diharapkan, beragamnya adat dan budaya di Kabupaten Poso, akan menjadi cerminan kokohnya rasa persatuan dan kesatuan masyarakat Poso.
Selain sebagai ajang festival, acara ini juga sebagai wujud nyata rekonsiliasi di tanah Sintuwu Maroso dan promosi kepada dunia luar bahwa Poso tidak lagi menakutkan. Itu dibuktikan dengan digelar Festival Budaya Poso lalu, dimana ribuan warga Poso (muslim dam Kristen) tumplek di Lapangan Sintuwu Maroso, Poso Kota untuk menghadiri acara itu.
Tidak hanya warga Poso dari 15 kecamatan yang hadir menampilkan dan memamerkan kesenian tradisionalnya dan pakaian adat mereka, tapi warga pendatang seperti Bali, Jawa, Lombok, Bugis, Makassar dan Gorontalo pun ikut hadir dengan pakaian tradisional asal daerahnya. "Itu membuktikan bahwa telah tercipta rekonsiliasi di Poso. Orang tidak lagi membeda-bedakan suku dan ras masing-masing," jelas Piet Inkiriwang.
Tidak hanya itu, ada kesenian tradisional seperti Tari Dero (tari pergaulan), yang pernah dilarang di Poso Kota, karena bertentangan dengan ajaran Islam, pada Festival Budaya Poso, sempat pula digelar dan mendapat respon positif warga setempat dan tidak ada lagi yang mengganggu.
"Sekali lagi, itu menjadi bukti kalau kita sudah mulai bangkit," terang Bupati Piet Inkiriwang.
Padahal, dulu ketika Poso masih membara, setiap kali ada acara Tari Dero, pasti ada teror. Teror itu tidak hanya dengan lemparan batu, tapi juga diledakan bom di tempat acara itu samai merenggut nyawa peserta tari. Sekarang, justru masyarakat sendiri yang menjaga situasi itu.
LANTODAGO, OPERASI KEAMANAN YANG BELUM BERAKHIR
Terlepas dari itu semua, operasi keamanan di Poso belum juga berakhir. Operasi keamanan itu bernama sandi Operasi Lantodago II yang dimulai sejak Oktober dan akan berakhir pada Desember 2007 nanti. Pasukan Brimob yang di BKO dari Mabes Polri, masih ikut terlibat dalam operasi itu.
Menurut Juru Bicara Polda Sulawesi Tengah, Ajun Komisaris Besar Polisi Heddy, tercatat masih ada sekitar dua satuan setingkat kompi atau lebih dari 200 personel.
Apakah masih akan diperpanjang operasi itu? Kapolda Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Polisi Badrodin Haiti, di Palu, Rabu (21/11) siang, mengatakan tidak ada rencana untuk diperpanjangnya Operasi Lantodago itu hingga tahap ketiga.
"Situasi sudah membaik. Dengan begitu, besar kemungkinan Operasi Lantodago tidak akan diperpanjang lagi," tegas Kapolda Sulteng.
Meski operasi Lantodago sudah akan berakhir dan kemungkinan tidak diperpanjang lagi, tapi menurut Kapolda Sulteng, operasi kewilayahan dibaah kendali Polda Sulteng akan terus dilaksanakan. Tapi, operasi kewilayahan itu tidak lagi dengan menambah pasukan dari luar, tapi cukup dengan pasukan organik yang bertugas di Poso dan juga anggota Brimob Polda Sulteng.
Kapolda menjelaskan, di penghujung operasi Lantodago itu, pihaknya berhasil mengamankan sedikitnya 67 cashing bom rakitan dan supucuk senjata api rakitan. Benda berbahaya itu ditemukan di Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Poso Pesisir Utara pada Sabtu (17/11) lalu. Tapi, tidak diketahui pemiliknya dan polisi masih terus memburu pemilik tersebut.
Puluhan cashing bahan peledak dan senjata api rakitan ini ditemukan secara kebetulan oleh salah seorang warga Kelurahan Tegalrejo yang melintas di perkebunan kakao, dan menemukannya di bawah tumpukan genteng bekas. Menurut Kapolda, kemungkinan sengaja diletakkan di tempat agar mudah dilihat untuk segera diamankan.
Melihat benda berbahaya ini, warga tadi langsung menghubungi aparat kepolisian Resort Poso. Usai menerima laporan, tim Gegana pun langsung menuju lokasi dan mengamankan benda berbahaya ini. Setelah diidentifikasi ternyata ada enam puluh tujuh cashing bom dan satu pucuk senjata api rakitan. Selanjutnya dimasukkan ke karung dan dibawa masuk ke mobil patroli.
Tim gegana sempat melakukan penyisiran di sekitar lokasi untuk mencari kemungkinan masih adanya sisa bahan peledak dan barang berbahaya lainnya. Namun setelah disisir selama setengah jam ternyata tidak ditemukan.
Kapolda mengakui, ditemukannya cashing dan senjata rakitan itu, tidak menjadi indikasi tidak amannya situasi di Poso saat ini. Situasi sudah begitu membaik, masyarakat sudah bisa hidup berbaur dan tidak ada lagi ketakutan seta saling curiga. Meski begitu, Kapolda berharap agar warga Poso tetap memantau setiap pergerakan orang-orang luar yang mencurigakan saat masuk ke Poso. "Jadilah polisi bagi diri sendiri," begitu pesan Kapolda kepada warga Poso. ***
Thursday, November 15, 2007
Kita Hidup Butuh Lobang
Sungguh, kita hidup membutuhkan lobang. Mungkin ini kalimat yang tepat, untuk membicarakan soal kebutuhan akan lobang itu. Mau bukti....???
Saat kita lahir, keluarnya dari lobang (kecuali yang operasi cesar). Kita makan, juga masuknya melalui lobang (mulut). Kita pipis, juga keluarnya dari lobang (meskipun kecil). Kita pup, juga keluarnya dari lobang. Jika kita adalah laki-laki, maka kita akan memasukan sesuatu ke lobang ketika sudah menikah (ada juga yang belum menikah, tapi sudah memasukan tongkatnya ke lobang).
Semua itu, pasti terasa nikmat. Kecuali melahirkan dari lobang yang menurut kaum perempuan, sakit rasanya. Tapi yang lainnya, mulai dari pipis, pup, makan, minum, dan saat menikah, semuanya nikmat---ajiiiib.
Saya tak bisa membayangkan, jika kita hidup tanpa lobang. Dari mana kita pipis, dari mana kita pup, lewat mana kita lahir, lewat mana kita makan dan minum. Oleh karena itu, selalulah mencari lobang dan jangan salah memilih lobang. Hati-hati pula jangan sampai kita terperosok ke dalam lobang. Hidup lobang.....***
Saat kita lahir, keluarnya dari lobang (kecuali yang operasi cesar). Kita makan, juga masuknya melalui lobang (mulut). Kita pipis, juga keluarnya dari lobang (meskipun kecil). Kita pup, juga keluarnya dari lobang. Jika kita adalah laki-laki, maka kita akan memasukan sesuatu ke lobang ketika sudah menikah (ada juga yang belum menikah, tapi sudah memasukan tongkatnya ke lobang).
Semua itu, pasti terasa nikmat. Kecuali melahirkan dari lobang yang menurut kaum perempuan, sakit rasanya. Tapi yang lainnya, mulai dari pipis, pup, makan, minum, dan saat menikah, semuanya nikmat---ajiiiib.
Saya tak bisa membayangkan, jika kita hidup tanpa lobang. Dari mana kita pipis, dari mana kita pup, lewat mana kita lahir, lewat mana kita makan dan minum. Oleh karena itu, selalulah mencari lobang dan jangan salah memilih lobang. Hati-hati pula jangan sampai kita terperosok ke dalam lobang. Hidup lobang.....***
Subscribe to:
Posts (Atom)