PALU - KPU Sulawesi Tengah, Selasa malam, mengesahkan Daftar Caleg Semenetara (DCS) menjadi Daftar Caleg Tetap (DCT). KPUD menggugurkan 163 dari 1060 nama dalam DCS karena bermasalah.
Ketua Kelompok Kerja Seleksi dan Penetapan Caleg KPUD Sulteng, Samsuddin Baco, menjelaskan sebanyak 160 caleg gugur lebih awal karena tidak melengkapi berkas yang disyaratkan.
“Menyusul tiga nama lagi karena dilaporkan masyarakat, terkait kasus korupsi dan masih berstatus PNS. Sekalipun berkas persyaratan ketiganya lengkap,” katanya.
Dua nama yang gugur dari bursa caleg untuk DPRD Provinsi Sulteng itu berasal dari Partai Golkar untuk Daerah Pemilihan (Dapil) V/Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan, yakni Iskandar Kajawa dan Abdul A. Gani.
Hasil verifikasi KPUD, Iskandar telah divonis dalam kasus korupsi dan Abdul Gani masih berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Seorang caleg bermasalah lainnya berasal dari Partai Pemuda Indonesia (PPI) untuk Dapil V atas nama Mudar Saratun Puyu yang juga masih berstatus PNS.
Ketua Kelompok Kerja Seleksi dan Penetapan Caleg KPUD Sulteng, Samsuddin Baco, mengatakan partai pengusung tidak memberikan jawaban atas permintaan klarifikasi KPUD sampai waktu yang ditetapkan berakhir, 27 Oktober 2008.
“Atas dasar itu kami berkesimpulan partai pengusung telah merelakan calonnya untuk tidak ikut dalam pemilu mendatang,” tegasnya.
Ketua Biro Pemenangan Partai Golkar Sulteng, Iqbal Andi Maga ditemui terpisah membenarkan kedua caleg dari partainya itu tak lolos mengikuti pemilu mendatang. Ia menjelaskan Golkar telah menarik nama Iskandar dari caleg, setelah mendapatkan putusan pengadilan. “Demikian halnya Abdul Gani yang masih berstatus PNS,” katanya.***
Wednesday, October 29, 2008
Penetapan Pilkada Donggala Ricuh
DONGGALA- Dua perwakilan pengunjukrasa Aliansi Masyarakat Banawa dan Pantai Barat (AMBARA), Abdul Rasyid dan Helmy Sahibe dibonyok massa di ruang rapat pleno Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Donggala, Selasa (28/10) sore, saat penetapan pasangan Habir Ponulele-Aly Lasamaulu (HALAL) sebagai pemenang calon bupati dan wakil bupati Donggala.
Pemukulan itu berawal saat Abdul Rasyid dan Helmy tampil di ruang rapat pleno KPUD membacakan aspirasi AMBARA. Dalam petisinya, Rasyid dan Helmy menyatakan pilkada Donggala cacat hukum karena keikutsertaan masyarakat Sigi.
Di hadapan banyak orang di ruang rapat pleno KPU mereka minta penetapan Pilkada harus ditunda karena merupakan pembohongan publik. “Termasuk bapak-bapak yang hadir di dalam ruangan ini juga pembohong,” lantang Rasyid.
Mendengar ucapan tersebut, spontan saja sejumlah hadirin berteriak “kurang ajar kamu,”. Mereka tidak menerima disebut sebagai pembohong. Beberapa orang dalam ruang rapat tersebut langsung beraksi.
Seorang anggota PPK yang hadir berinisial KONE langsung berdiri melangkah ke depan, tanpa aba-aba melayangkan tinjunya ke wajah Abdul Rasyid. Sejumput kemudian, anggota PPK lain juga mengejar dan memukul Rasyid. Melihat itu sejumlah undangan juga ikut-ikutan mengeroyok kedua pengunjuk rasa tersebut.
Ironisnya, sebelum insiden terjadi tak ada aparat kepolisian berjaga. Aparat keamanan, yang jumlahnya ratusan hanya berjaga-jaga di pintu gerbang dan di halaman kantor KPU. Aparat baru beramai-ramai masuk melerai setelah kedua korban pengeroyokan itu wajahnya babak belur.
Itu pun aparat sempat kewalahan menyelamatkan kedua korban karena situasi dalam rapat pleno mulai kacau, sejumlah kursi berhamburan dan beberapa gelas di atas meja pecah berhamburan jatuh dilantai.
Suasana rapat sempat tegang dan nyaris bubar, akibat banyaknya massa yang berteriak-teriak, baik mendukung maupu yang meminta penetapan ditunda. Namun sekertaris KPUD Semuel Tawua pada Media Alkhairaat, mengatakan hal ini tidak bisa ditunda karena sudah merupakan tahapan pilkada yang harus dilanjutkan.
Ketua KPUD Donggala Rifai Amrullah menyatakan kalau ada pihak yang tidak puas atau merasa dirugikan dengan hasil pilkada ini dapat menempuh jalur hukum. “Kami sudah tetapkan pasangan Halal sebagai pemenang Pilkada Donggala. Yang jelas kami telah menjalankan tugas dengan baik sesuai prosedur perundang-undangan yang berlaku,” ucap Rifai.
Sementara itu, Helmy Sahibe segera dilarikan ke RSUD Kabelota Donggala untuk mendapat pertolongan. wajahnya mengalami luka parah hingga mengeluarkan darah segar.
“Luka saya ada tujuh jahitan besok saya laporkan ke Polres Donggala agar pelaku pemukul diproses secara hukum.” Kata helmy. ***
Pemukulan itu berawal saat Abdul Rasyid dan Helmy tampil di ruang rapat pleno KPUD membacakan aspirasi AMBARA. Dalam petisinya, Rasyid dan Helmy menyatakan pilkada Donggala cacat hukum karena keikutsertaan masyarakat Sigi.
Di hadapan banyak orang di ruang rapat pleno KPU mereka minta penetapan Pilkada harus ditunda karena merupakan pembohongan publik. “Termasuk bapak-bapak yang hadir di dalam ruangan ini juga pembohong,” lantang Rasyid.
Mendengar ucapan tersebut, spontan saja sejumlah hadirin berteriak “kurang ajar kamu,”. Mereka tidak menerima disebut sebagai pembohong. Beberapa orang dalam ruang rapat tersebut langsung beraksi.
Seorang anggota PPK yang hadir berinisial KONE langsung berdiri melangkah ke depan, tanpa aba-aba melayangkan tinjunya ke wajah Abdul Rasyid. Sejumput kemudian, anggota PPK lain juga mengejar dan memukul Rasyid. Melihat itu sejumlah undangan juga ikut-ikutan mengeroyok kedua pengunjuk rasa tersebut.
Ironisnya, sebelum insiden terjadi tak ada aparat kepolisian berjaga. Aparat keamanan, yang jumlahnya ratusan hanya berjaga-jaga di pintu gerbang dan di halaman kantor KPU. Aparat baru beramai-ramai masuk melerai setelah kedua korban pengeroyokan itu wajahnya babak belur.
Itu pun aparat sempat kewalahan menyelamatkan kedua korban karena situasi dalam rapat pleno mulai kacau, sejumlah kursi berhamburan dan beberapa gelas di atas meja pecah berhamburan jatuh dilantai.
Suasana rapat sempat tegang dan nyaris bubar, akibat banyaknya massa yang berteriak-teriak, baik mendukung maupu yang meminta penetapan ditunda. Namun sekertaris KPUD Semuel Tawua pada Media Alkhairaat, mengatakan hal ini tidak bisa ditunda karena sudah merupakan tahapan pilkada yang harus dilanjutkan.
Ketua KPUD Donggala Rifai Amrullah menyatakan kalau ada pihak yang tidak puas atau merasa dirugikan dengan hasil pilkada ini dapat menempuh jalur hukum. “Kami sudah tetapkan pasangan Halal sebagai pemenang Pilkada Donggala. Yang jelas kami telah menjalankan tugas dengan baik sesuai prosedur perundang-undangan yang berlaku,” ucap Rifai.
Sementara itu, Helmy Sahibe segera dilarikan ke RSUD Kabelota Donggala untuk mendapat pertolongan. wajahnya mengalami luka parah hingga mengeluarkan darah segar.
“Luka saya ada tujuh jahitan besok saya laporkan ke Polres Donggala agar pelaku pemukul diproses secara hukum.” Kata helmy. ***
Ironi Sumpah Pemuda
PALU – 80 tahun Sumpah Pemuda, kini meninggalkan ironi. Fakta yang ditelusuri menemukan enam dari delapan mahasiswa dan pelajar di Kota Palu, tak tahu Selasa hari ini adalah peringatan Sumpah Pemuda ke-80. Mereka juga tak mengetahui isi Sumpah Pemuda.
Lubis (20), mahasiswa Universitas Tadulako (Untad), mengaku tak hafal isi Sumpah Pemuda. Ia, bahkan tak tahu kapan Sumpah Pemuda dideklarasikan. “Ya, mana saya ingat! Itu kan pelajaran anak SD,” kata mahasiswa semester V ini.
Pendapat senada diungkapkan, Arham (18), alumni sebuah SMA di Palu. Katanya, “Sumpah Pemuda itu hari biasalah. Ya, tidak begitu penting,” kata dia.
Yang mengiriskan, apa yang dialami Hari Paramuda, mahasiswa sebuah lembaga pendidikan setara D2. Hari hanya mengetahui tanggal 28 Oktober adalah Hari Ulang Tahunnya. Ia tak tahu, jika setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda.
Hari mengaku lebih menghafal lagu-lagu pop yang didendangkan grup band masa kini, ketimbang isi Sumpah Pemuda.
Tak hanya di komunitas mahasiswa, di kalangan pelajar juga, Sumpah Pemuda tak diingat lagi.
Muamar, Wakil Ketua Osis di sebuah SMU, dengan terbata-bata menjawab, Sumpah Pemuda diperingati setiap tanggal 28 November. “Saya tidak tahu isi sumpah pemuda, karena di sekolahku tidak pernah diperingati. Bahkan tanggalnya pun saya lupa,” kata Muamar.
Alpa mengingat Sumpah Pemuda juga dialami Yayuk Sulistiawati. “Saya tidak hafal semua isi sumpah pemuda. Yang saya hafal, yakni kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia,” katanya polos.
Berbeda dengan pandangan remaja sebayanya, Nurdia Nita, mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta mengaku paham dan hafal isi Sumpah Pemuda. Dia juga mengetahui persis sejarah lahirnya Sumpah Pemuda.
Kata dia, pemahaman terhadap Sumpah Pemuda baik sejarah dan isinya, diketahui berkat aktifitas kepramukaan yang ia ikuti saat SMA. “Ya, karena pernah ikut pramuka,” ujar gadis asal Palu via telepon.
Ingatan yang sama terhadap Sumpah Pemuda juga dirasakan Bunga (25), paramedis di RS Anutapura Palu. Kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) menjadi sumber ingatannya terhadap kebesaran Sumpah Pemuda.
Lubis (20), mahasiswa Universitas Tadulako (Untad), mengaku tak hafal isi Sumpah Pemuda. Ia, bahkan tak tahu kapan Sumpah Pemuda dideklarasikan. “Ya, mana saya ingat! Itu kan pelajaran anak SD,” kata mahasiswa semester V ini.
Pendapat senada diungkapkan, Arham (18), alumni sebuah SMA di Palu. Katanya, “Sumpah Pemuda itu hari biasalah. Ya, tidak begitu penting,” kata dia.
Yang mengiriskan, apa yang dialami Hari Paramuda, mahasiswa sebuah lembaga pendidikan setara D2. Hari hanya mengetahui tanggal 28 Oktober adalah Hari Ulang Tahunnya. Ia tak tahu, jika setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda.
Hari mengaku lebih menghafal lagu-lagu pop yang didendangkan grup band masa kini, ketimbang isi Sumpah Pemuda.
Tak hanya di komunitas mahasiswa, di kalangan pelajar juga, Sumpah Pemuda tak diingat lagi.
Muamar, Wakil Ketua Osis di sebuah SMU, dengan terbata-bata menjawab, Sumpah Pemuda diperingati setiap tanggal 28 November. “Saya tidak tahu isi sumpah pemuda, karena di sekolahku tidak pernah diperingati. Bahkan tanggalnya pun saya lupa,” kata Muamar.
Alpa mengingat Sumpah Pemuda juga dialami Yayuk Sulistiawati. “Saya tidak hafal semua isi sumpah pemuda. Yang saya hafal, yakni kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia,” katanya polos.
Berbeda dengan pandangan remaja sebayanya, Nurdia Nita, mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta mengaku paham dan hafal isi Sumpah Pemuda. Dia juga mengetahui persis sejarah lahirnya Sumpah Pemuda.
Kata dia, pemahaman terhadap Sumpah Pemuda baik sejarah dan isinya, diketahui berkat aktifitas kepramukaan yang ia ikuti saat SMA. “Ya, karena pernah ikut pramuka,” ujar gadis asal Palu via telepon.
Ingatan yang sama terhadap Sumpah Pemuda juga dirasakan Bunga (25), paramedis di RS Anutapura Palu. Kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) menjadi sumber ingatannya terhadap kebesaran Sumpah Pemuda.
Idealisme Pemuda Telah Tergadaikan
PALU - Pemuda telah melupakan makna sumpah pemuda yang sebenarnya. Sumpah pemuda mestinya diartikan untuk melawan kolonialisme, tapi nyatanya, pemuda Indonesia saat ini tak lagi peka terhadap kepailitan bangsa. Demikian Rio Ismail mantan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Pusat, Senin (27/10).
Menurut Rio, harusnya, komponen pemuda dapat bersatu dalam penggalangan masyarakat untuk maju bersama melawan kolonialisme, sebab di negara ini tak lagi ada kelompok yang gencar melakukan pergerakan itu. Lemahnya perjuangan yang dilakukan oleh komponen anak muda saat ini, disebabkan kurangnya komunikasi antar pemuda dengan masyarakat.
“Secara ekonomi kita bisa katakan bahwa negara ini tak lagi memiliki kewenangan penuh dalam kebijakan ekonominya, sebab hingga saat ini, 90 persen kekayaan alam Indonesia telah dikuasai negara asing. Kemandirian negara ini telah habis, terkikis oleh perbedaan paham antara pemimpin nasioanal dan tokoh pemudanya,” Ujar Rio.
Menurut dia, semua organisasi kepemudaan (OKP) di Indonesia utamanya di daerah ini, (Sulawesi Tengah, red) mengkaji kembali makna gerakannya. Selama ini katanya kiprah pemuda sudah terlalu melenceng dari cita-cita pendiri sumpah pemuda.
“Kalau perlu untuk kelompok Cipayung rembukan kembali untuk melahirkan gerakan pemuda yang lebih berpihak pada rakyat, kuncinya meniadakan wadah berhimpun bagi OKP dan membentuk lembaga perjuangan yang lain,” katanya.
Sementara itu salah satu aktivis Solidaritas Perempuan (SP) Palu. Rosniati tak membantah kalau saat ini ada kecenderungan kuat pemuda lebih bangga memiliki produk asing dari pada produk dalam negeri. ”Makna kebangsaan, kebernegaraan telah luntur tanpa kendali,”tegas Rosniati.
Menurutnya, anak zaman sekarang tak lagi memiliki semangat nasionalis, mereka jarang mau terjun ke masyarakat untuk membantu waga mendapatkan hak, atas tanahnya, hak akan pendidikan dan hak atas kehidupan yang layak. Pemuda lebih dominan diskusi akan hal-hal yang tak pasti misalnya, kata dia, KNPI saat ini tak bisa berbuat apa-apa, mereka tak mau turun dan melakukan terobosan yang baik untuk kepentingan banyak orang. Dia menyarankan KNPI dibubarkan saja karena organisasi ini telah menjadi beban banyak orang.
“Baiknya re-definisi dan re-design kembali visi dan tujuan pemuda seperti awal pembentukannya,”katanya.
Ketua Gerakan Anti narkoba (Granat) Sulawesi Tengah. Hardi D Yambas menyebutkan bahwa memang gerakan pemuda yang dimotori KNPI telah bergeser dari perannya sebagai katalisator organisasi kepemudaan. Saat ini KNPI tak ubahnya hanya sebagai penumpang kendaraan yang dijalankan pemerintah. Dia mengatakan, Sumpah Pemuda yang bermakna melawan kolonialisme sudah sangat jauh dari angan-angan kelompok muda saat ini.
Independensi pemuda menjadi barang yang sudah langka. Ini bisa dilihat secara jelas terjadinya dualisme kepemimpinan KNPI pusat yang terjadi sekarang. “Kondisi tersebut tak bisa dipungkiri bahwa pemuda terlalu muda diboncengi oleh kelompok tertentu. Independensi mereka telah musnah, oleh kepentingan sesaat,” tegasnya.***
Menurut Rio, harusnya, komponen pemuda dapat bersatu dalam penggalangan masyarakat untuk maju bersama melawan kolonialisme, sebab di negara ini tak lagi ada kelompok yang gencar melakukan pergerakan itu. Lemahnya perjuangan yang dilakukan oleh komponen anak muda saat ini, disebabkan kurangnya komunikasi antar pemuda dengan masyarakat.
“Secara ekonomi kita bisa katakan bahwa negara ini tak lagi memiliki kewenangan penuh dalam kebijakan ekonominya, sebab hingga saat ini, 90 persen kekayaan alam Indonesia telah dikuasai negara asing. Kemandirian negara ini telah habis, terkikis oleh perbedaan paham antara pemimpin nasioanal dan tokoh pemudanya,” Ujar Rio.
Menurut dia, semua organisasi kepemudaan (OKP) di Indonesia utamanya di daerah ini, (Sulawesi Tengah, red) mengkaji kembali makna gerakannya. Selama ini katanya kiprah pemuda sudah terlalu melenceng dari cita-cita pendiri sumpah pemuda.
“Kalau perlu untuk kelompok Cipayung rembukan kembali untuk melahirkan gerakan pemuda yang lebih berpihak pada rakyat, kuncinya meniadakan wadah berhimpun bagi OKP dan membentuk lembaga perjuangan yang lain,” katanya.
Sementara itu salah satu aktivis Solidaritas Perempuan (SP) Palu. Rosniati tak membantah kalau saat ini ada kecenderungan kuat pemuda lebih bangga memiliki produk asing dari pada produk dalam negeri. ”Makna kebangsaan, kebernegaraan telah luntur tanpa kendali,”tegas Rosniati.
Menurutnya, anak zaman sekarang tak lagi memiliki semangat nasionalis, mereka jarang mau terjun ke masyarakat untuk membantu waga mendapatkan hak, atas tanahnya, hak akan pendidikan dan hak atas kehidupan yang layak. Pemuda lebih dominan diskusi akan hal-hal yang tak pasti misalnya, kata dia, KNPI saat ini tak bisa berbuat apa-apa, mereka tak mau turun dan melakukan terobosan yang baik untuk kepentingan banyak orang. Dia menyarankan KNPI dibubarkan saja karena organisasi ini telah menjadi beban banyak orang.
“Baiknya re-definisi dan re-design kembali visi dan tujuan pemuda seperti awal pembentukannya,”katanya.
Ketua Gerakan Anti narkoba (Granat) Sulawesi Tengah. Hardi D Yambas menyebutkan bahwa memang gerakan pemuda yang dimotori KNPI telah bergeser dari perannya sebagai katalisator organisasi kepemudaan. Saat ini KNPI tak ubahnya hanya sebagai penumpang kendaraan yang dijalankan pemerintah. Dia mengatakan, Sumpah Pemuda yang bermakna melawan kolonialisme sudah sangat jauh dari angan-angan kelompok muda saat ini.
Independensi pemuda menjadi barang yang sudah langka. Ini bisa dilihat secara jelas terjadinya dualisme kepemimpinan KNPI pusat yang terjadi sekarang. “Kondisi tersebut tak bisa dipungkiri bahwa pemuda terlalu muda diboncengi oleh kelompok tertentu. Independensi mereka telah musnah, oleh kepentingan sesaat,” tegasnya.***
Uwentira Longsor, Kebun Kopi Macet
PARIGI - Arus lalu lintas di Jalur trans Sulawesi khususnya di daerah Kebun Kopi tersendat akibat longsor di beberapa titik dan pohon tumbang. Hal ini disebabkan cuaca buruk dan hujan deras yang turun di daerah Palu dan Parigi hampir sebulan terakhir.
Pantauan di Kebun Kopi yang masuk wilayah Kabupaten Donggala hingga sekitar perbatasan Donggala dan Kabupaten Parigi, Ahad (26/10) menunjukkan hal ini.
Di beberapa titik yang longsor, pengendara harus berhenti antara satu-dua jam menunggu petugas membersihkan longsoran berupa tanah dan batu. Di titik lainnya, kendaraan harus melambat akibat pohon tumbang. Belum lagi jalan yang tertutup tanah becek dan terendam air.
Sepanjang Ahad pagi hingga sore kemarin, hujan disertai angin kencang dan kabut hampir tak pernah berhenti. Tak pelak kemacetan tidak bisa dihindarkan. Antrean kendaraan mencapai panjang 500 meter hingga satu kilometer. Di sekitar Uwentira, salah satu titik longsor di Kebun Kopi, petugas harus menutup jalan setiap dua jam, untuk membersihkan longsoran. Sementara di titik lainnya jalur ditutup setiap satu jam.
Sejumlah petugas menggunakan mobil pengeruk terus membersihkan longsoran dari tebing, yang jatuh hampir setiap saat. ''Saya sudah dari tadi menunggu di sini. Pas saya tiba di sini, petugas baru saja menutup jalan. Jadi terpaksa menunggu dua jam, baru bisa dibuka lagi. Tapi sekitar dua kilometer dari sini, ada pembersihan longsoran juga dan jalannya ditutup setiap satu jam,'' ujar Sherly (35), pengendara motor dari Palu menuju Parigi.
Kebun Kopi, wilayah yang masuk Kabupaten Donggala adalah wilayah yang menghubungkan Kota Palu- Kabupaten Parigi. Daerah ini juga menjadi jalur trans Sulawesi yang menghubungkan Makassar (Sulsel)-Palu (Sulteng, Gorontalo-Palu, Manado (Sulut)-Palu. Kebun Kopi adalah daerah pegunungan dengan jalan yang satu sisinya berbatasan dengan tebing dan sisi lainnya adalah lembah.
Kendati jalannya berkelok-kelok dan kerap longsor, banyak pengendara yang lebih memilih menggunakan jalur ini karena waktu tempuhnya lebih singkat, dibanding menggunakan jalur Pantai Barat, Donggala. ***
Pantauan di Kebun Kopi yang masuk wilayah Kabupaten Donggala hingga sekitar perbatasan Donggala dan Kabupaten Parigi, Ahad (26/10) menunjukkan hal ini.
Di beberapa titik yang longsor, pengendara harus berhenti antara satu-dua jam menunggu petugas membersihkan longsoran berupa tanah dan batu. Di titik lainnya, kendaraan harus melambat akibat pohon tumbang. Belum lagi jalan yang tertutup tanah becek dan terendam air.
Sepanjang Ahad pagi hingga sore kemarin, hujan disertai angin kencang dan kabut hampir tak pernah berhenti. Tak pelak kemacetan tidak bisa dihindarkan. Antrean kendaraan mencapai panjang 500 meter hingga satu kilometer. Di sekitar Uwentira, salah satu titik longsor di Kebun Kopi, petugas harus menutup jalan setiap dua jam, untuk membersihkan longsoran. Sementara di titik lainnya jalur ditutup setiap satu jam.
Sejumlah petugas menggunakan mobil pengeruk terus membersihkan longsoran dari tebing, yang jatuh hampir setiap saat. ''Saya sudah dari tadi menunggu di sini. Pas saya tiba di sini, petugas baru saja menutup jalan. Jadi terpaksa menunggu dua jam, baru bisa dibuka lagi. Tapi sekitar dua kilometer dari sini, ada pembersihan longsoran juga dan jalannya ditutup setiap satu jam,'' ujar Sherly (35), pengendara motor dari Palu menuju Parigi.
Kebun Kopi, wilayah yang masuk Kabupaten Donggala adalah wilayah yang menghubungkan Kota Palu- Kabupaten Parigi. Daerah ini juga menjadi jalur trans Sulawesi yang menghubungkan Makassar (Sulsel)-Palu (Sulteng, Gorontalo-Palu, Manado (Sulut)-Palu. Kebun Kopi adalah daerah pegunungan dengan jalan yang satu sisinya berbatasan dengan tebing dan sisi lainnya adalah lembah.
Kendati jalannya berkelok-kelok dan kerap longsor, banyak pengendara yang lebih memilih menggunakan jalur ini karena waktu tempuhnya lebih singkat, dibanding menggunakan jalur Pantai Barat, Donggala. ***
Subscribe to:
Posts (Atom)