Thursday, April 06, 2006

MUI Sulut dan Sulteng Minta Eksekusi Tibo Ditunda

Ruslan Sangadji

Ketua Majelis Ulama Indonesia, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) KH. Ustadz Arifin Assegaf, Kamis (6/4) mengunjungi terpidana mati Poso, Fabianus Tibo, Marinus Riwu dan Dominggus da Silva di Lembaga Pemasyarakatan Petobo Palu.

Ust Arifin menemui Tibo cs pada pukul 8.00 wita diantar oleh Paroki Palu, Pastor Melky Toreh dan Kepastoran Tentena Pastor Jemmy Tumakaka.

Di hadapan tiga terpidana mati kasus Poso tersebut, Ustadz Arifin meminta kepada Tibo untuk jujur mengungkap apa yang sesungguhnya yang terjadi pada peristiwa Mei 2000.

Setelah bertemu dengan Tibo cs, anggota dewan Pertimbangan Perguruan Islam Alkhairaat ini menyatakan, Tibo memang perlu diberi kesempatan untuk mengungkap keterlibatan kelompok 16 yang disebut Tibo sebagai dalang kerusuhan Poso.

Pada pertemuan itu, Arifin Assegaf juga meminta doa kepada Tuhan. "Saya beri doa: Tuhan Enggkau maha mendengar, dengarlah keluhan kami bahwa kami saat ini sedang didholimi," ujarnya.

Sebagai anggota kelompok peduli Poso, Ust Arifin mengatakan Tibo bisa dianggap sebagai saksi mahkota untuk peristiwa pembunuhan ratusan warga muslim Poso.

Karena itu, ia meminta kepada aparat penegak hukum untuk menunda eksekusi Fabianus Tibo Cs. Permintaan ini kata dia bukan sebagai bentuk intervensi penegakan hukum, tapi yang dimasalahkan adalah pengungkapan kelompok 16 yang disebut Tibo sebagai dalang rusuh Poso yang memilukan Mei 2000.

Ia berkeyakinan pengungkapan kelompok 16 akan terkuak orang-orang yang selama ini terus mengobok-obok Poso. "Bukan hanya 16 orang tapi data saya lebih dari 16 orang itu. Jangan kita menjadi orang dholim," katanya.

Usai ketemu Tibo, Ust Arifin menemui ketua MUI Sulteng, KH Saiyid Saggaf Aljufrie di kantor Pengurus Besar (PB) Alkhairaat Palu. Ustadz Arifin mengatakan, pihak MUI Sulteng meminta agar eksekusi terhadap Tibo ditunda sebelum kelompok 16 diperiksa.

Ustadz Saggaf Aljufrie, yang juga ketua utama Perguruan Islam terbesar di Indonesia Timur ini menyatakan sependapat dengan Ustadz Arifin. "Saya kira sudah cukup apa yang dikatakan Ust Arifin. Kami sependapat," tukasnya sembari pergi meninggalkan ruangan untuk menunaikan sholat Duhur.

Pastoran Tentena, Jemi Tumakaka menyampaikan terimah kasihnya kepada dua ulama besar itu atas keprihatinannnya terhadap kasus Tibo. Ia yakin keadilan akan tiba kepada Tibo meskipun saat ini PK II Tibo cs ditolak.

Kepala Kejaksaan Tinggi Sulteng, Yahya Sibe kembali menegaskan Eksekusi Tibo sudah harga mati. apalagi PK II ditolak maka tak ada alasan bagi Kejati untuk menundanya. "Ini perintah undang-undang," tegasnya.

soal waktu eksekusi Kejati, Yahya Sibe tak bisa memastikan karena ini juga bagian dari undang-undang untuk merahasikan tempat dan waktu ekseskusi. "Soal waktu eksekusi itu rahasia, tak bisa diberitakan," katanya.***

No comments: