Setelah berjalannya Program Peduli Kaum Dhuafa dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kini Pemerintah Kota Palu kembali menerjemahkan program tersebut dengan nama Program Anantovea. Program itu telah dilaunching pada 30 Januari 2011 silam oleh Walikota, Rusdy Mastura. Program ini kemudian dibuatkan yayasan yang diberi nama Yayasan Anantovea.
Anantovea berasal dari Bahasa Kaili yang berarti “Anak Kita Tersayang”. Pengertian itulah yang mengilhami Pemerintah Kota Palu untuk mendorong program penanggulangan kemiskinan, yang lebih diarahkan pada bantuan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu di kota ini.
Program Anantovea itu tak lebih untuk menstimulasi peran masyarakat, swasta dan pemerintah guna memberikan perhatian dan bantuan bagi anak-anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu di Kota Palu.
Menurut Wakil Walikota Palu, Andi Mulhanan Tombolotutu, tingkat kepedulian masyarakat saat ini terhadap sesama anak bangsa semakin terdegradasi, sebagai akibat menurunnya rasa nasionalisme dan rasa kepedulian sesama, sehingga rasa kemanusiaan dalam diri manusia hampir hilang.
“Olehn karena itu, saya berharap agar melalui program ini, diharapkan dapat menggugah rasa peduli warga, sehingga pada gilirannya, anak-anak orang miskin, dapat menikmati pendidikan layaknya anak-anak dari keluarga mampu lainnya,” harapnya.
Lantas sejauhmana realisasi dari program tersebut lewat Yayasan Anantovea yang dipimpin M. Sapri Lapua itu? Dalam laporan tahunannya, yayasan itu menjelaskan, hingga akhir 2011 telah merealisasikan bantuan pendidikan bagi sedikit 103 siswa SMA/SMK dan SMP se Kota Palu. Dari jumlah itu, ada juga yang taman kanak-kanak dan mahasiswa kurang mampu.
Tidak hanya bantuan studi, menurut Sapri Laupa, pihaknya juga mengirimkan sejumlah siswa SMK untuk studi perakitan dan perbaikan hand phone di Beijing State Unite Information Technology Institute.
“Siswa yang belajar merakit HP itu segera melakukan demonstrasi. Sekarang kita sedang mempersiapkan semuanya, dan tinggal menunggu instruksi walikota saja,” kata Sapri Laupa.
Melihat realisasi bantuan bagi siswa miskin di Kota Palu itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng melaporkan, indeks Keparahan Kemiskinan secara umum meningkat dari 0,75 menjadi 0,78 Hal tersebut menunjukkan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin semakin melebar. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan mencapai 0,59 pada Maret 2011 menurun menjadi 0,31 pada September 2011.
Sementara Indeks Kedalaman Kemiskinan untuk daerah perkotaan mengalami penurunan sebesar 1,93 persen menjadi 1,46 persen. Artinya, menurut laporan BPS itu, di daerah perkotaan ketimpangan dan keparahan rata-rata pengeluaran penduduk miskin sudah semakin mengecil pun halnya kedalaman kemiskinan. ***
Saturday, February 11, 2012
Yayasan Anantovea Bantu 103 Siswa Miskin di Palu
Posted by Ochan Sangadji at 2:40 PM 0 comments Links to this post
Penduduk Miskin di Sulteng Menurun
Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah pada Agustus 2011 menunjukkan adanya sedikit perbaikan jika dibandingkan dengan kondisi pada Februari 2011, yang digambarkan dengan adanya peningkatan kelompok penduduk yang bekerja dan penurunan tingkat pengangguran.
javascript:void(0)
Laporan Bank Indonesia dalam Kajian Ekonomi Regional menyebutkan, jumlah angkatan kerja di Provinsi Sulawesi Tengah pada bulan Agustus 2011 tercatat sebanyak 1.313.680 orang, sementara angkatan kerja yang bekerja tercatat 1.260.999 orang dengan tingkat pengangguran yang turun sebesar 6,31% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, terkait tingkat kemiskinan di Sulteng, Kepala Badan Pusat Statistik setempat, Ibram Syahboeddin melaporkan, selama lima tahun terakhir (2007–2011) jumlah dan persentase penduduk miskin di Sulawesi Tengah terus mengalami penurunan secara signifikan.
Dia menyebutkan, jumlah penduduk miskin pada tahun 2007 sebanyak 557,40 ribu jiwa (22,42%), tahun 2008 sebanyak 524,70 ribu jiwa (20,75%), tahun 2009 sebanyak 489,84 ribu jiwa (18,98%), tahun 2010 sebanyak 474,99 ribu jiwa (18,07%).
“Hingga September 2011 penduduk miskin di Sulteng sekitar 432,07 ribu jiwa atau 16,04 persen. Ini berarti tingkat kemiskinan naik sebanyak 8,44 ribu jiwa atau naik 0,21% point,“ katanya.
Ibram menjelaskan, sekalipun di bulan September 2011 terjadi kenaikan sebesar 8,44 ribu jiwa penduduk miskin, namun secara umum jumlah penduduk miskin mengalami penurunan.
Kenaikan angka pada bulan september itu dikarenakan di saat naiknya harga-harga akibat pengaruh banyaknya hari-hari besar yang mengakibatkan daya beli masyarakat melemah. Ia mengatakan jika dilihat tingkat akselerasi terjadi pertambahan penduduk miskin di Sulteng pada tahun 2011 periode Maret hingga September sebesar 1,99%.
Selama tahun 2011 pada periode Maret - September, penduduk miskin di daerah perdesaan dan perkotaan bertambah masing-masing sekitar 4,4 ribu jiwa dan 4,0 ribu jiwa. Tahun 2011, periode Maret hingga September garis kemiskinan naik sebesar 5,13 %, yaitu dari Rp.235.512, per kapita per bulan pada bulan Maret menjadi Rp. 247,584 per kapita per bulan pada September 2011. Sementara indeks kedalaman kemiskinan menunjukkan peningkatan dari 2,76 menjadi 2,87.
“Hal ini mengindikasikan rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan mengarah semakin melebar artinya rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung menjauhi garis kemiskinan atau ke arah yang sedikit buruk,“urainya.
Sedangkan pada indeks keparahan kemiskinan menunjukkan kecenderungan meningkat dari 0,75 periode Maret 2010 menjadi 0,78, kondisi tersebut menunjukkan ketimpangan pengeluaran penduduk semakin melebar. ***
Posted by Ochan Sangadji at 2:34 PM 0 comments Links to this post
Saturday, November 12, 2011
Kota Palu Paling Siap Jadi KEK
Wakil Walikota Palu, Andi Mulhanan Tombolotutu menyatakan, rakyat di Kota Palu siap menyambut Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) apabila Dewan Dewan Nasional KEK menetapkan Kota Palu sebagai Kek di Kawasan Timur Indonesia.
“Kami sangat berharap, Dewan Nasional KEK dapat memutuskan Kota Palu sebagai Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia Bagian Timur,” kata Wakil Walikota Palu.
Sebagai bahan pertimbangan, kata Wakil Walikota, selain syarat administrasi, termasuk persetujuan Gubernur Sulteng yang sudah siap dan sekarang telah berada di tangan Dewan Nasional KEK, Pemerintah Kota Palu juga telah menyiapkan laha seluas 1520 hektar di Kecamatan Palu Utara, yang meliputi wilayah Pantoloan, Baiya, dan Lambara.
Walikota menjelaskan, dari total luas itu, untuk lahan pengembangan sebesar 1520 hektar, akan dibagi dalam 700 hektar Kawasan Industri, 500 hektar Kawasan Perumahan, 100 hektar Education Park & Research Center, 100 hektar Kawasan Komersial, 50 hektar Sports, Golf & Country Club, 50 hektar Pergudangan, 15 hektar, dan 5 hektar PALU Botanical Garden.
“Semua itu sudah kita siapkan dan dapat dilihat langsung Dewan Nasional KEK,” ujar Wakil Walikota Palu.
Kawasan ini, menurutnya, telah diperhitungkan sejak awal. Sederhananya, kawasan industri hanya berjarak 15 Kilometer dan Utara Kota Palu. Dengan 10 menit perjalanan dari jalan raya Trans Sulawesi, 5 menit dan Pelabuhan Samudera Pantoloan, 30 menit dan dan ke Bandar Udara Mutiara, dan hanya 20 menit dari dan ke Kantor Pemerintah Kota Palu.
Di samping itu, Shuttle Helipad, Shuttle Bus PALU-Bandan Udara Mutiara, Shuttle Bus Palu—Kawasan industri Palu, dan Mikro Bus,Taksi +/-12 bus lane, tersedia untuk menjamin aspek keterjangkauan menuju kawasan.
“Dengan didukung oleh badan promosi Palu yang menyediakan pelayanan One Stop Services dan Estate management yang komprehensif. Berbagai kemudahan dalam pelayanan akan diberikan seluas-luasnya bagi peminat usaha dan investor dalam melakukan usaha nantinya,” jelasnya.
Pelayanan itu antara lain, surat Domisili dan Pengurusan IMB, pengurusan UKL-UPL (Usaha Kelola Lingkungan Usaha Pengelolaan Lingkungan), pengurusan dokumen izin-izin Pendirian Usaha, rekruitmen tenaga kerja dan pelatihan- pelatihan, pengurusan dokumen ke BKPM dan BKPMD, serta pengurusan tenaga kerja asing. Di samping itu, kepemilikan oleh pemerintah menjadikan harga lahan di kawasan Industri pastinya akan lebih kompetitif.
“Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Dunia Usaha dan DPRD telah membuat kesepakatan untuk bekerjasama secara efektif dalam realisasi program ini,” kata Mulhanan Tombolotutu.
Kesepakatan ini meliputi penciptaan iklim investasi yang kondusif di Palu dan penyiapan sumber daya yang diperlukan. Universitas Tadulako, Pusat Pengembangan lndustri Rotan Palu (UPT), Sekolah Menengah Kejuruan Kriya Rotan dan Sekolah Kejuruan Teknik lainnya, akan digandeng untuk segala jenis riset dan penelitian lainnya.
Badan pengelola profesionalnya pun, tidak tanggung-tanggung pula direkrut hingga 20 orang staf, dengan gelar kesarjanaan dan tingkat strata satu dan praktisi industri 9 orang, strata dua 8 orang, dan 3 orang strata tiga atau yang bergelar Doktor.
Jenis pelayanan profesionalnya sendiri, terdiri dan pengolahan air bersih (Water Treatment Plant), pengolahan air lirnbah (Waste Water Treatment Plant), AMDAL dan Environmental Monitoring, pengelolaan keamanan kawasan (Security), pemeliharaan Drainage, pemeliharan infrastruktur jalan, PJU-penerangan jalan umum, Street Lighting, pengendalian sampah, pemeliharaan landskaping, dan Community Development.
“Pokoknya, semuanya sudah kami siapkan sejak awal. Jadi tinggal menunggu penetapan Dewan Nasional KEK saja,” tandas Mulhanan Tombolotutu. ***
Posted by Ochan Sangadji at 9:57 PM 0 comments Links to this post
Demi KEK, Pemkot Palu Harus Fight
Ketua Umum Kamar dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto menyatakan akan ikut memfasilitasi mewujudkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Palu, Sulawesi Tengah. “Saya akan ikut mengawal mewujudkan KEK di Palu. Oleh karena itu, Kadin siap menjadi fasilitator yang baik untuk itu,” kata Suryo Bambang Sulisto dalam kunjungan singkatnya di vip room Bandara Mutiara Palu, Kamis (3/11) sore.
Untuk mewujudkan itu, katanya, dia berjanji akan bersama-sama pihak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Pemerintah Kota Palu dan Kadin Sulawesi Tengah untuk bertemu bersama di kantor Kadin Indonesia dan pihak kementrian di Jakarta. “Kita akan menemui Pak Hatta Radjasa dan beberapa menteri terkait nantinya. Kita akan diskusikan serius mengenai KEK di Palu,” kata Suryo Bambang Sulisto.
Selain itu, setelah mendapat masukan mengenai Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yang tidak berpihak pada Sulawesi Tengah, Suryo Bambang Sulisto mengatakan, MP3EI itu bukan harga mati. Semuanya masih dapat diubah setelah mendapat usulan dari daerah.
“Jika Sulawesi Tengah menyatakan bahwa MP3I itu tidak berpihak pada daerah ini, maka kami tunggu usulannya untuk dimasukkan dalam dokumen itu,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, boss Lippo Group, James Riyadi mengatakan, penetapan KEK itu tetap menjadi keputusan politik. Namun demikian, keputusan politik itu harus pula didasari pada obyektivitas setelah melihat data dan fakta pendukungnya.
“Ini kali pertama saya ke Palu. Saya melihat dari udara, Palu ini sangat indah dan sangat tepat untuk KEK di kawasan timur Indonesia. Tanjung Lesung, Banten yang sudah ditetapkan sebagai KEK itu tidak ada apa-apanya dibanding Palu,” kata James Riyadi.
Oleh karena itu, James Riyadi mengajak Pemerintah Kota Palu dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, untuk berjuang mewujudkan KEK di Palu. “Harus fight. Penetapan itu sangat politis. Saya berjanji akan ikut membantu, maka dokumen KEK itu nanti serahkan juga ke saya,” janji James Riyadi.
Wakil Walikota Palu, Andi Mulhanan Tombolotutu dalam paparan singkatnya di hadapan Ketua Umum dan Pengurus Kadin Indonesia menyatakan, Pemerintah Kota Palu, Pemerintah Provinsi Sulteng, dunia usaha dan masyarakat sangat mendukung ditetapkannya KEK di Palu. Oleh karena itu, segala daya dukung telah disiapkan, termasuk lokasi yang sudah dibebaskan seluas 1500 hektar di Palu Utara. ***
Posted by Ochan Sangadji at 9:47 PM 0 comments Links to this post
Tuesday, May 31, 2011
Menelisik Asal Senjata Teroris di Poso
Pasca penembakan tiga anggota polisi di depan Bank Central Asia (BCA) Cabang Palu (25/5) lalu, banyak pihak bertanya-tanya, dari mana asal senjata yang digunakan para teroris itu. Tahmidi Lasahido, sosiolog dari Universitas Tadulako Palu mengatakan, senjata yang digunakan itu merupakan senjata sisa kerusuhan tahun 1998 silam.
Kapolda Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Polisi Dewa Parsana mengatakan, senjata yang digunakan para teroris itu adalah US Carabin/Jungle dan M-16. Senjata itu sudah karatan dan seharus tidak layak digunakan lagi.
Lantas dari mana asal senjata itu? Kalau Tahmidi Lasahido menduga senjata yang digunakan teroris itu adalah sisa-sisa kerusuhan tahun 2008-2002 silam, sangat masuk akal. Karena, ketika meletusnya konflik Poso yang sangat dahsyat tahun 2000 silam, kelompok-kelompok sipil bersenjata datang ke Poso dengan membawa senjata untuk kemudian “berperang” di daerah itu.
Buktinya, polisi maupun TNI berhasil menyita maupun diserahkan warga, sejumlah jenis senjata yang pernah digunakan pada kerusuhan itu, antara lain senjata laras pendek seperti revolver dan FN. Juga laras panjang seperti Avtomat Kalashnikova 1947 (senjata buatan Rusia) atau yang dikenal dengan istilah AK-47. Ada juga Senapan Serbu Satu (SS-1) buatan Pindad yang biasa digunakan TNI dan Polri, dan M-16.
M-16 ini kaliber 5,56 mm. M16 adalah sebutan militer Amerika Serikat untuk senapan AR-15. Colt membeli hak atas AR-15 dari ArmaLite dan saat ini menggunakan sebutan yang hanya untuk versi semi-otomatis senapan. Senapan M16, menembak menggunakan Magazen 5.56x45mm dan dapat menghasilkan efek melukai besar, ketika dampak peluru pada kecepatan tinggi dan patek dalam jaringan menyebabkan fragmentasi dan cepat mentransfer energi.
Yayasan Tanah Merdeka (YTM) Palu, dalam hasil penelitiannya menyebutkan, sumber utama senjata api sampai di tangan kelompok sipil bersenjata ini, adalah diselundupkan dari luar negeri. Satu sumber penting adalah Filipina bagian selatan, kemudian dibawa masuk melalui pintu kepuluan Sangihe Talaud di Sulawesi Utara, berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain, lalu sampai ke Poso.
“Mereka membawa senjata ini ke Poso dengan metode lompat kodok, yaitu berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain, sampai akhirnya di Poso dan digunakan oleh kelompok sipil bersenjata dalam kerusuhan,” kata Muhammad Hamdin, direktur YTM.
Pintu lain lagi menurut YTM, adalah perbatasan Malaysia dan Kalimantan. Dari Filipina bagian selatan, diselundupkan melalui Tawau, Malaysia, kemudian masuk ke Nunukan, Kalimantan Timur untuk selanjutnya dibawa ke Poso.
Ada beberapa titik transit sebelum tiba di Poso, menurut penelitian YTM itu, melalui beberapa desa pesisir di Parigi Moutong, Kepulauan Togean di Kabupaten Tojo Una-Una, kemudian ke Kolonodale atau Bungku Selatan di Kabupaten Morowali, selanjutnya dibawa ke Poso. “Saat situasinya masih memanas ketika itu, senjata dibawa dengan menggunakan perahu nelayan yang berlayar di malam hari seakan-akan sedang memancing ikan. Senjata dan peluru itu diisi dalam karung beras maupun kotak mie instan,” ujarnya.
Tahmidi Lasahido mengatakan, senjata-senjata itu jumlahnya ribuan pucuk yang masuk ke Poso. Memang, sudah banyak yang disita dan diserahkan secara sadar oleh warga Poso. Data polisi menyebutkan, sedikitnya 29 ribu pucuk senjata jenis laras pendek dan panjang yang sudah dimusnahkan polisi.
Meski begitu, kata Tahmidi Lasahido, masih banyak pula yang disimpan warga untuk sewaktu-waktu dapat digunakan lagi. “Mereka menyimpannya di kebun dengan cara ditanam, atau juga ada yang menyimpannya di halaman rumah,” kata staf pengajar dari Universitas Tadulako ini.
Dia mengatakan, senjata-senjata yang masih disimpan itulah, yang kemudian digunakan para kelompok garis keras (Polisi menyebutnya kelompok teroris) untuk melakukan aksi-aksi kekerasan seperti yang terjadi di depan Bank BCA Cabang Palu di Jalan Emmy Saelan, Palu Selatan itu.
“Jadi, saya pikir bahwa polisi harus lebih intens lagi melakukan pencarian senjata-senjata yang masih disimpan itu. Masyarakat juga harus berani memberitahukan kepada polisi mengenai keberadaan senjata itu, karena apapun alasannya kepemilikan senjata oleh warga sipil itu adalah illegal,” tandas Tahmidi Lasahido.***
Posted by Ochan Sangadji at 8:02 PM 0 comments Links to this post
Friday, May 27, 2011
Berburu Pelaku Penembakan Polisi Hingga ke Poso
Polisi masih terus memburu dua orang lagi yang diduga sebagai pelaku penembakan tiga anggota Satuan Pengamanan Obyek Vital (Pamovit) di depan Bank Central Asia (BCA) Cabang Palu, Sulawesi Tengah pada Rabu (25/5) lalu.
Konsentrasi perburuan terhadap dua pelaku itu diarahkan ke Kabupaten Poso, karena diduga mereka telah melarikan diri ke wilayah itu melalui jalur Napu, Kabupaten Poso menuju Sanginora, Poso Pesisir.
Bahkan saat ini, polisi sedang melakukan penyisiran ke kawasan pegunungan di Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, karena dua orang pelaku lainnya itu diduga bersembunyi di sekitar hutan tersebut.
Pengejaran terhadap dua pelaku itu dilakukan oleh tim Densus 88 Mabes Polri, yang dipimpin oleh Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Sulawesi Tengah, Komisaris Besar Polisi Ari Dono Sukmanto. Namun hingga kini, perburuan terhadap pelaku itu belum berbuah hasil.
Dari Poso dilaporkan bahwa rumah Harianto alias Anto di Kelurahan Kayamanya, Poso Kota sudah kosong. Istri dan keluarganya sudah meninggalkan rumah. Para tetangganya mengatakan mereka meninggalkan rumah setelah tersiar kabar bahwa Anto telah ditangkap karena diduga sebagai pelaku penembakan tiga anggota polisi di depan Bank BCA Palu.
Sementara itu, Ketua Komnas HAM Perwakilan Sulawesi Tengah, Dedi Askary menyatakan prihatin atas insiden penembakan yang telah menewaskan dua anggota polisi, Brigadir Satu (Briptu-Anumerta) Polisi Yudistira, Briptu (Anumerta) Andi Irbar Prawira itu.
"Apapun bentuknya dan siapapun korbannya, kekerasan tidak dibenarkan terjadi, apalagi mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain," kata Dedi Askary.
Dedi Askary mengatakan, rentetan kejadian beberapa tahun terakhir, yang banyak mengakibatkan korban dari aparat kepolisian dalam menjalankan tugas, menjadi hal yang sangat memprihatinkan bagi kita semua, bagaimana pun juga, polisi adalah manusia yang memiliki hak dasar, yaitu hak untuk hidup dan diperlakukan secara manusiawi.
Menurutnya, polisi merupakan profesi yang mulia sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum serta pelindung, pengayom dan pelayan Masyarakat. "Sudah seharusnya diberi penghargaan atas kerja-kerja mereka selama ini yang walaupun kadang banyak menuai kritikan dan pujian, tapi semua itu merupakan apresiasi dan kecintaan masyarakat terhadap institusi kepolisian sebagai aparat penegak hukum yang dicintai rakyat," ujarnya.
Mengenai pelaku yang sudah ditangkap, Dedi Askari mengharapkan agar kasus itu dapat secepatnya diproses sesuai mekanisme dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kepada aparat kepolisian agar dalam menindak pelaku, dapat mengedepankan asas praduga tak bersalah (right to presumption of innocence) dan jauh dari praktik-praktik kekerasan.
Komnas HAM Perwakilan Sulawesi Tengah juga mengimbau seluruh masyarakat Sulawesi Tengah agar tidak panik, serta tidak merespon peristiwa ini secara berlebihan. "Tetaplah meningkatkan kewaspadaan dengan turut berpartisipasi dalam memelihara kamtibmas, dan tidak mudah terprovokasi, karena menjaga keamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai warga Negara sesuai dengan harapan kita bersama," tandas Dedi Askary. ***
Posted by Ochan Sangadji at 9:02 PM 0 comments Links to this post
Kapolda Pastikan Pelaku Adalah Teroris
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Polisi Dewa Parsana, memastikan dua tersangka pelaku penembakan terhadap tiga polisi di depan kantor Bank Central Asia (BCA) Jalan Emi Saelan, Rabu (25/4), adalah aktivitas terorisme.
Pernyataan tersebut disampaikan Kapolda Dewa Parsana menjawab pertanyaan sejumlah wartawan di Mapolda Sulawesi Tengah, Jumat (27/5) siang.
Menurut Dewa Parsana, kedua pelaku yang dinyatakan sebagai teroris itu, setelah dilakukan penyidikan dan diketahui motif penembakan bukanlah perampokan, melainkan ingin merebut dan menguasai senjata milik Polri, lalu kemudian digunakan untuk melakukan teror di sejumlah wilayah di daerah ini.
Untuk memaksimalkan pengungkapan kasus penembakan tersebut termasuk pengejaran terhadap dua pelaku lainnya di kabupaten Poso, Kapolda membentuk tim gabungan yang terdiri dari Mabes Polri, Polda Sulteng dan TNI.
Saat ini, polisi sudah menangkap dua tersangka pelaku penembakan, HR alias Anto (27) dan FR (23) di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Rabu malam. Penangkapan kedua tersangka tersebut setelah terljadi aksi baku tembak dengan polisi.
Rabu siang (25/5), dua anggota polisi tewas ditembak orang tak dikenal masing-masing Briptu (Anumerta) Januar Yudhistira Putra dan Briptu (Anumerta) Andi Irbar Prawiro. Satu lainnya selamat adalah Bripda Edward Loho.***
Posted by Ochan Sangadji at 8:45 PM 0 comments Links to this post
"Astaga KK, Semoga Tenang di Sisi Allah,"
Akun facebook salah seorang anggota dari Kesatuan Pengamanan Obyek Vital (Pamovit) Polda Sulawesi Tengah, Brigadir Polisi Satu (Anumerta) Januar Yudhistira, hingga Jumat (27/5) malam masih dibanjiri komentar teman-temannya, maupun dari keluarga anggota Polri lainnya.
Dalam akunnya "Yudhi Pranata (Yudhi Tatiana Gaskins)", Yudhistira terakhir kali menulis statusnya pada Selasa (24/5) pukul 15.48. Saat itu, Januar Yudhistira menulis: "Slalu liad nanti trus jwbnya.. Kpn bs bilang yudh ayo z tgu.. Yg tdinya 100% mood pas blg bgtu jd tgl 50% ... Sbrlah ..," tulis Yudhistira dalam statusnya di akun facebooknya.
Yudhistira bersama dua rekannya yakni Briptu (Anumerta) Andi Irbar Prawiro dan Bripda Dedy Edward tertembak saat bertugas menjaga keamanan di Bank Central Asia (BCA) Cabang Palu, Jalan Emmy Saelan, Palu Selatan pada Rabu siang sekitar pukul 11.30 Wita.
Status ini mendapat 19 komentar dan disukai oleh 28 orang teman di facebooknya.
Dian Ekawaty Majid, adalah rekannya yang pertama kali mengucapkan duka dan dirinya merasa tidak yakin atas kepergian anggota polisi yang pernah main Film Televisi (FTV) itu.
"Astaga KK, semoga tenang di sisi Allah," tulis Dian Eka.
Sehari sebelumnya, 23 Mei pukul 09.20, Yudhistira menulis: "Boys don't cry... Bcoz no boy no cry....". Status ini mendapat tujuh komentar dan 14 orang yang menyukainya.
Salah seorang rekannya bernama, Adie Riyo, diketahui bahwa saat pendidikan di SPN Batua, Makassar, Sulawesi Selatan tahun 2009, Yudhistira terpilih sebagai Komandan Peleton Korps siswa.
Sebagian besar rekan-rekan Yudhistira tinggal di Jakarta. Mereka umumnya merasa kehilangan atas meninggalnya Yudhistira dalam sebuah serangan bersenjata di Palu, Rabu siang itu. Dari sejumlah komentar teman-temannya di Jakarta itu, umumnya mengungkapkan rasa tidak percaya mereka atas kepergian Januar Yudhistira.
Yudhistira lahir di Makassar 24 Januari 1990, anak pertama dari tiga bersaudara. Yudhistira baru sembilan bulan bertugas di Polda Sulteng setelah lulus di SPN Batua, Makassar. Selama di Palu, Yudhistira tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jalan Cendrawasih, Palu Selatan, bersama rekannya Andi Irbar yang juga korban tewas tertembak.
Yudhistira pernah bermain film FTV di salah satu stasiun televisi swasta. Ia salah seorang pemeran dalam film "Di sini Ada Setan".
Sementara itu akun facebook Andi Irbar tertutup untuk diketahui orang lain kecuali pada rekannya di dalam jaringan facebook. Ibrar diketahui lahir di Irian Barat, April 1990. Lantaran itu, orang tuanya memberikan nama Irbar yang menjadi singkatan dari Irian Barat. Dia juga lulusan SPN Batua Makassar, seangkatan dengan Yudhistira dan keduanya ditugaskan di Polda Sulteng.***
Posted by Ochan Sangadji at 8:06 PM 0 comments Links to this post
Potensi Peningkatan Produksi Pertanian di Sulteng Masih Terbuka
Potensi peningkatan produksi pertanian di Sulawesi Tengah, dinilai masih cukup terbuka. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah melaporkan, luas lahan menurut penggunaannya di daerah ini mencapai 13.596 hektar. Sementara luas lahan kering yang belum dimanfaatkan mencapai 674.728 hektar, dengan jumlah terbesar terdapat di Kabupaten Banggai.
“Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor potensial untuk mendorong peningkatan produksi padi maupun palawija di Sulawesi Tengah,” kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah, Abdullah Kawulusan.
Menurutnya, pada tahun 2011 ini telah dilakukan pencetakan sawah baru dengan luas lebih dari 3.500 hektar yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten. Daerah yang paling banyak mencetak sawah baru terdapat di Kabupaten Morowali dan Buol, masing-masing 1000 hektar.
Sedangkan untuk produktivitas padi di Sulawesi Tengah saat ini mencapai 4,5 ton per hektar. Jumlah ini masih dibawah rata-rata nasional yaitu sebesar enam ton per hektar.
Faktor penyebabnya, kata Abdullah Kawulusan, karena terbatasnya tenaga penyuluh pertanian dan rendahnya kesadaran petani untuk menggunakan bibit unggul, melakukan pemupukan dan pengolahan. “Meski begitu, kita menargetkan menempatkan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai 10 besar penghasil padi nasional pada tahun 2012 nanti,” ujarnya.
Target itu, menurutnya, karena produksi padi di Sulawesi Tengah tahun 2010 diperkirakan mencapai 986.126 ton kabah kering giling, naik sebesar 32.730 ton (3,43 persen), dibandingkan dengan produksi padi tahun 2009 yang hanya mencapai 953 ton gabah kering giling.
Sementara pada lima tahun terakhir, luas panen padi di Sulawesi Tengah bertambah rata-rata sebesar 4,37 persen per tahun, dan produksinya naik rata-rata 7,75 persen per tahun.
Tapi, stok beras di Bulog Divisi Regional (Divre) Sulawesi Tengah pada akhir Desember 2010 mencapai 5.723 ton, turun sebesar minus 31,12 persen. Namun, selama triwulan IV-2010, realisasi pengadaan beras Bulog Divre Sulteng mencapai 1.302 ton. Jumlah tersebut lebih rendah dibandngkan pengadaan pada triwulan sebelumnya maupun pada tahun 2009. “Namun pada tahun 2010 ini, Bulog Divre Sulteng menargetkan pengadaan beras sebanyak 10 ribu ton,” kata Edy Subiantoro.***
Posted by Ochan Sangadji at 1:21 PM 0 comments Links to this post
Mengintip Prospek Perekonomian di Sulawesi Tengah
Prospek perekonomian di Sulawesi Tengah mengalami pertumbuhan yang positif sebesar sekitar 3,45 persen. Secara tahunan, perekonomian di daerah ini diperkirakan tumbuh 8,00 persen.
Pertumbuhan yang positif itu didorong oleh membaiknya kinerja pada komponen konsumsi, baik konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah. Tingkat konsumsi diperkirakan semakin meningkat seiring dengan adanya panen raya padi yang terjadi pada bulan April 2011lalu, serta panen kakao yang diperkirakan terjadi pada bulan Mei atau Juni 2011 nanti.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah melaporkanm, masih kuatnya konsumsi rumah tangga juga tercermin dari hasil survei konsumen pada bulan Oktober-Desember 2010, yang menunjukkan bahwa Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) untuk enam bulan mendatang (April-Juni 2011) masih berada pada level optimis dengan nilai indeks berada pada kisaran 135,67 - 149,33.
Sedangkan, kinerja ekspor pada triwulan II 2011 diperkirakan sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh adanya panen kakao itu. Walaupun demikian, kakao sebagai komoditas utama penyumpang ekspor Provinsi Sulawesi Tengah, masih tetap menghadapi sejumlah permasalahan seperti serangan hama, kurangnya tenaga penyuluh, penerapan kebijakan bea keluar yang merugikan petani, serta sulitnya aksesibilitas dalam permodalan.
“Akibatnya, produktivitas kakao di provinsi ini baru mencapai rata-rata sebesar 500 kilogram per hektar per tahun atau masih jauh dari kondisi ideal yang bisa menghasilkan sebesar 3-4 ton/ha/tahun,” kata Kepala BPS Sulawesi Tengah, Razali Ritonga.
Kedepan, katanya, program peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga penyuluh serta Program Gernas Kakao, diharapkan dapat memberikan angin segar bagi kinerja pertanian dan kinerja ekspor Provinsi Sulawesi Tengah di tengah kegelisahan yang terjadi pada sebagian kalangan petani, yang ingin mengalihkan lahannya ke lahan sawit serta beralih pekerjaan ke sektor pertambangan dan menjadi petani rumput laut.
Di sisi lain, menurut Razali Ritonga, aktivitas ekspor bahan galian C juga ditengarai akan meningkat seiring dengan peningkatan pengiriman bahan galian C ke wilayah Kalimantan Timur dan wilayah lainnya, untuk menghadapi realisasi proyek pemerintah pada triwulan II-2011.
Secara sektoral pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2011 masih bersumber dari sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor jasa-jasa dan sektor bangunan. Kinerja sektor pertanian pada triwulan II 2011 diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya seiring dengan adanya panen raya padi dan panen kakao.
“Kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran, juga diperkirakan akan meningkat akibat dampak mulai dibangunnya beberapa hotel baru seperti Hotel Silk Stone dan Hotel Santika di Palu,” ujarnya.
Sementara kinerja sektor bangunan dan sektor jasa juga akan mengalami pertumbuhan positif seiring peningkatan realisasi APBD Provinsi Sulawesi Tengah yang diperkirakan mulai direalisasikan pada bulan April 2011. Berbagai proyek pembangunan yang ditengarai akan meningkatkan kinerja sektor bangunan dan jasa di antaranya adalah proyek pembangunan PLTA Sulewana, proyek pembangunan terminal dan perluasan landasan bandara Mutiara Palu, proyek pembangunan Hotel Santika dan Hotel Silk Stone serta proyek-proyek pembangunan rumah dan ruko lainnya. ***
Posted by Ochan Sangadji at 1:12 PM 0 comments Links to this post


