Akibat krisis listrik berkepenjangan, membuat para Bupati dan Walikota se Sulawesi Tengah gerah juga. Mereka kemudian bertemu di Palu Golden Hotel, Senin (9/11) malam untuk membicarakan soal solusi mengatasi masalah energi listrik itu.
Rapat yang dipimpin Bupati Parigi Moutong, Longky Djanggola itu menghasilkan beberapa poin penting, antara lain perlu gerakan bersama seluruh masyarakat untuk mendorong dilakukannya audit terhadap PLN wilayah Suluttenggo (Sulawesi Utara Tengah dan Gorontalo).
Poin lainnya adalah perlu gerakan massal untuk mendesak agar PLN tidak seenaknya melakukan pemadaman dengan alasan yang tidak jelas. "Masyarakat diajak berdemo di wilayah masing-masing, nanti kami para bupati dan walikota berdemo di depan istana negara di Jakarta," kata Bupati Parigi Moutong, Longky Djanggola dan diamini seluruh bupati.
Menurut Bupati Longky Djanggola, para bupati dan walikota akan mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, untuk secepatnya merealisasikan agenda 100 harinya, dan soal energi listrik yang harus menjadi prioritas utama.
Selain itu, katanya, perlu adanya tim independen yang melakukan pengawasan terhadap kinerja PLN, agar setiap laporan yang disampaikan PLN mengenai kerusakan mesin, overhole dan lainnya dapat benar-benar diketahui oleh warga.
"Siapa yang paham kalau mesin itu rusak, mesin itu mengalami overhole. Kan tidak ada yang tau. Itu semua terjadi karena PLN tidak pernah transparan selama ini," katanya.
Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong pernah membant PLN Cabang Parigi sebesar 1,5 Megawatt dari kebutuhan pasokan listrik sebesar 6 megawatt di daerah itu. Tapi PLN mengaku mesin yang dibantu itu ngedrop sehingga hanya bisa menghasilkan 3,5 megawatt.
"Anda bayangkan saja, PLN meminta bantuan mesin kita sudah bantu. Setelah itu, mereka minta lagi bantuan biaya operasional untuk membeli solar dan lain-lain. Lantas kemana biaya yang dikeluarkan negara untuk PLN. Saya tidak menuduh, tapi saya curiga ada permainan di internal PLN. Makanya perlu diaudit," katanya.
Gubernur Sulteng, Bandjela Paliudju menyatakan setuju dengan rencana tersebut. Ia mengatakan, PLN Cabang Palu harus bertanggungjawab atas terjadinya krisis listrik. "Saya setuju diaudit. PLN Cabang Palu harus diaudit," ujar Gubernur Sulteng.
Sebelumnya, kata Gubernur Paliudju, PLN telah merespon rencana relokasi mesin berkapasitas 5 megawatt dari Bitung ke Palu. Namun hingga kini, rencana tersebut belum terealisasi. "PLN harus bertanggungjawab atas pembatalan relokasi mesin itu, karena Pemerintah Provinsi Sulteng sudah mengeluarkan biaya relokasi tersebut, tapi tiba-tiba harus dibatalkan," kata Gubernur Paliudju. ***
Thursday, November 19, 2009
Bupati/Walikota se Sulteng Ancam Demo ke Istana Negara
Posted by Ochan Sangadji at 7:25 PM 0 comments Links to this post
Friday, April 03, 2009
Jusuf Kalla Janji Listrik untuk Sulteng

Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla, berjanji akan mengatasi krisis listrik di Sulawesi Tengah. Janji itu disampaikan dalam kampanye terbuka di Lapangan Vatulemo, Palu, Kamis (2/4). "Tahun depan, listrik di Sulteng tidak akan padam lagi, karena Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sulewana Poso sudah akan beroperasi," kata Jusuf Kalla di hadapan puluhan ribu anggota dan simpatisan Partai Golkar.
Janji Jusuf Kalla itu dilontarkan, setelah salah seorang simpatisan Partai Golkar naik di atas panggung dan mengutarakan keluh kesahnya kepada Ketua Umum parpol bernomor urut 23 itu. "Bagaimana bisa bekerja, bila sering terjadi pemadaman listrik," keluh simpatisan Partai Golkar tersebut.
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sulewana di Desa Sulewana Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah itu ditargetkan mampu menghasilkan listrik sebesar 180 MW. Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sulawesi, akan dibangun tiga PLTA yakni PLTA Poso I dengan kapasitas 60 MW, PLTA Poso II (Sulewana) berkapasitas 180 MW, dan PLTA Poso III dengan kapasitas energi yang dihasilkan 300 hingga 400 MW.
PLTA Poso I sendiri dijadwalkan selesai dibangun pada 2010 sehingga bisa bermanfaat untuk wilayah Sulteng dan sekitarnya.
Selain itu, Jusuf Kalla juga mengaku siap mengemban amanat jika dipercaya rakyat untuk menjadi Presiden Indonesia selama periode lima tahun ke depan. "Kader Partai Golkar siap menjaga bangsa Indonesia agar tetap berjalan di arah yang benar," katanya.
Jusuf Kalla sendiri berkampanye sekitar 20 menit sebelum bertolak ke Surabaya untuk melakukan kegiatan serupa. Kampanye tersebut juga mendapat pengawalan ketat dari petugas keamanan.
Kampanye tersebut dihadiri puluhan ribu anggota dan simpatisan Partai Golkar. Massa yang berasal dari Kota Palu dan kabupaten di sekitarnya itu sudah memadati lapangan sejak pagi hari, padahal kampanye tersebut baru dimulai pukul 09.00 Wita. Massa berbondong-bondong menggunakan berbagai kendaraan dengan menggunakan berbagai atribut Partai Golkar serba kuning.
Jusuf Kalla bersama rombongan tiba di Bandara Mutiara Palu pada sekitar pukul 10.15 dengan menggunakan pesawat carteran. Jusuf Kalla sendiri menginjakkan kaki di atas panggung sekitar 20 menit setelah mendarat di bandara. Dalam orasinya, Jusuf Kalla mengajak pengurus dan kader partainya untuk berusaha memenangkan pemilu legislatif di Sulteng. "Mari kita lanjutkan pembangunan yang sudah ada, agar kesejahteraan rakyat terus terwujud," katanya.***
Posted by Ochan Sangadji at 11:49 PM 0 comments Links to this post
Gubernur Diminta Bantu Pembebasan Lahan Kilang LNG
PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) meminta bantuan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, untuk turun tangan menangani buntunya pembebasan lahan area konsesi perusahaan tersebut, di Kabupaten Banggai. Hingga kini pembebasan lahan masih terkatung-katung karena sejumlah warga di Desa Uso meminta ganti rugi tanah dari Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu.
“Kita sudah menyurat ke Gubernur dan Bupati sejak 16 Maret lalu. Pada intinya kita minta bantuan Gubernur dan Bupati, karena harga yang diminta pemilik lahan nilainya tidak patut lagi buat kita,” kata General Affairs Manager DSLNG Julian Sudarmonegoro, Kamis (2/4).
Permintaan bantuan ini, katanya, terpaksa dilakukan karena negosiasi yang dilakukan DSLNG terhadap pemilik lahan menghadapi jalan buntu. Dia berharap Gubernur HB Paliudju dan Bupati Banggai Ma’mun Amir, dapat membantu proses pembebasan lahan ini demi mulusnya investasi migas bernilai Rp 31 triliun itu.
Julian Sudarmonegoro mengatakan, pembangunan kilang LNG ke empat di Indonesia ini tertunda, karena belum dibebaskannya 3 persen dari total 350 hektar lahan yang dibutuhkan DSLNG di Desa Uso, Kecamatan Batui, Banggai. Masih ada 17 pemilik lahan bertahan dengan harga ganti rugi yang dinilai terlalu tinggi. Pemilik tanah itu mematok harga antara Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar per hektar.
Acuan harga para pemilik lahan ini tidak disanggupi oleh DSLNG yang menetapkan harga pembebasan lahan sebesar Rp 90 juta dan Rp 125 juta per hektar. Pembedaan harga ini berdasarkan klasifikasi harga ganti rugi yang ditetapkan DSLNG sebesar Rp 12,5 ribu per meter persegi atau Rp 125 juta per hektar, untuk lahan yang berada di sepanjang tepian jalan Trans Sulawesi hingga radius 100 meter dari jalan.
Sedangkan harga Rp 9 ribu per meter persegi atau Rp 90 juta per hektar diberlakukan untuk ganti rugi lahan yang berada di atas 100 meter dari jalan.
Kepala Biro Tata Pemerintahan Setdaprov Sulteng, Wimbo Haryono Sunoko yang membidangi pembebasan lahan mengatakan, sampai saat ini, pihaknya belum menerima surat dari DSLNG tersebut. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Biro Humas dan Protokol Setdaprov Sulteng, Irwan Lahace. Tapi ia menyatakan kunjungan Gubernur ke Kabupaten Banggai hari ini, Rabu (1/4) lalu, tidak ada kaitannya dengan upaya pembebasan lahan untuk kilang LNG. ***
Posted by Ochan Sangadji at 11:44 PM 0 comments Links to this post
Polisi Tangkap Peneror Walikota
Tim Polda Sulteng akhirnya berhasil menangkap pelaku teror terhadap Walikota Palu, Rusdy Mastura. Tersangka adalah tukang ojek di Kelurahan Donggala Kodi, Kecamatan Palu Barat. Tersangka yang namanya dirahasiakan itu sudah ditahan di Mapolda Sulteng.
Yang bersangkutan ditangkap polisi, karena meneror Walikota Palu melalui pesan singkat HP yang isinya meminta Walikota Palu agar mengundurkan diri dalam waktu 2x24 jam. Jika tidak dilakukan, maka Walikota Palu akan melihat masyarakatnya di sekitar Pasar Inpres Masomba Palu Selatan akan mati terbunuh.
Menanggapi teror tersebut, polisi dibantu Polisi Pamong Praja memperketat penjagaan di sekitar kantor walikota. Penjagaan ketat juga dilakukan di pintu masuk ruangan walikota dan wakil walikota.
Demikian pula dengan situasi Kota Palu secara umum tampak biasa-biasa saja. "Saya sudah serahkan sepenuhnya kepada aparat Kepolisian, karena ini sudah masuk dalam ranah hukum dan sedapat mungkin pelaku teror tersebut ditangkap dan diproses sesuai ketentuan," kata Walikota Palu menanggapi teror tersebut.
Mudah-mudahan ancaman tersebut hanya sekedar perbuatan orang iseng yang ingin melihat pemerintah dan aparat keamanan sibuk bekerja. Dengan ancaman tersebut Pemerintah lebih waspada, apalagi pemilu tinggal menghitung hari.
Wakil Walikota Palu, Mulhanan Tombolotutu mengatakan, teror tersebut hanyalah April Mop atau April Fools' Day yang diperingati setiap 1 April setiap tahunnya. Pada hari itu, orang boleh dianggap berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. "Tapi apa pun itu, lelcuon si tukang ojek itu sudah berlebihan sehingga akhirnya dia ditangkap polisi," tandas Mulhanan Tombolotutu. ***
Posted by Ochan Sangadji at 11:42 PM 0 comments Links to this post
Pipa Gas Dibangun di SM Bangkiriang

PALU – PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Pengembangan Gas Matindok (EP PPGM), dipastikan akan membangun jalur pipa gasnya di Suaka Margasatwa (SM) Bakiriang, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Pipa gas ini akan melintasi kawasan konservasi seluas 12.500 hektar mengikuti ruas jalan eksisting Trans Sulawesi dari Kecamatan Toili ke Kecamatan Batui. Rencana pipanisasi untuk eksploitasi gas Blok Matindok ini disamapaikan General Manager PT Pertamina EP PPGM, M. Indra M. Kusuma,kepada The Jakarta Post, Jumat (3/4).
Menurut Indra Kusuma, pipanisasi gas itu akan dilakukan setelah mengantongi izin dari Menteri Kehutanan (Menhut) belum lama ini. Disebutkan dalam izin bahwa dalam pemasangan pipa nanti, Pertamina harus berkoordinasi dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng. “Untuk teknisnya kita akan berkoordinasi dengan BKSDA Sulteng,” katanya saat dihubungi via ponselnya.
Sebelumnya, Pertamina memang telah mengajukan izin pinjam pakai kawasan untuk kegiatan pertambangan dan pipanisasi gas di Bangkiriang, namun Menhut baru memberikan izin untuk pipanisasi gas saja.
Dengan keluarnya izin pipanisasi gas itu, maka pengembangan lapangan Gas Donggi dan lapangan Gas Minahaki di Kecamatan Toili Barat dan Kecamatan Toili semakin mulus. Di mana, produksi gas dari kedua lapangan itu akan dialirkan ke kilang LNG (liquefied natural gas) yang dibangun PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) di Desa Uso, Kecamatan Batui.
Selain dua lapangan gas itu, Pertamina juga akan mengeksploitasi Lapangan Gas Matindok dan Lapangan Gas Maleo Raja di Kecamatan Batui, untuk memenuhi pasokan gasnya sebesar 85 MSCFD (juta kaki kubik gas per hari) ke DSLNG mulai tahun 2012 nanti.
Tapi, Indra Kusuma mengatakan, pipanisasi gas itu sendiri belum akan dilaksanakan dalam tahun ini, karena pihaknya masih harus melaksanakan kegiatan pembebasan lahan dan penyiapan infrastruktur lainnya di empat lapangan gas yang dimilikinya di Blok Matindok tersebut.
Ia juga menyatakan, pipanisasi gas itu tidak akan merusak Bangkiriang karena pipa hanya mengikuti jalur jalan yang telah ada selama ini. “Kita nggak akan menambah kerusakan di Bakiriang,” katanya.
Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (ED Walhi) Sulteng, Ahmad Pelor mengecam pipanisasi gas di kawasan konservasi rumah burung maleo ini. Dia mengatakan mestinya BKSDA Sulteng memperbaiki kerusakan di Suaka Margasatwa Bakiriang. Bukannya justru memberi ruang bagi Pertamina untuk memasang pipa gas di sepanjang jalan yang membelah kawasan konservasi ini.
Selama ini, katanya, kebijakan pemerintah di Bakiriang justru selalu menambah kerusakan hutan adat masyarakat Batui tersebut. “Harusnya tidak boleh. Harusnya BKSDA memikirkan memulihkan Bangkiriang, bukan justru memberi ruang bagi investor untuk merusak Bakiriang,” tegasnya.
Hasil investigasi Yayasan Merah Putih (YMP) Palu, menunjukkan bahwa dari total luasan 12.500 hektar kawasan SM Bangkiriang, yang masih berhutan hanya berkisar 1000 Hektar saja. Sisanya, 11.500 hektar tiap tahunnya musnah akibat beragam aktivitas dan intervensi manusia di dalamnya. Terutama program-program yang mengatasnamakan pembangunan dan investasi, yang katanya untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sementara itu, Kepala Seksi Wilayah II BKSDA Sulteng di Poso, John, menyatakan pihaknya sejauh ini belum mengetahui adanya izin Menhut atas rencana pipanisasi gas itu. Mestinya, kata John, pihaknya juga telah menerima salinan surat dari Menhut tersebut. ***
Posted by Ochan Sangadji at 11:33 PM 0 comments Links to this post
Korsel akan Investasi Besar di Sulteng
PALU - Sebanyak 12 perusahaan besar asal Korea Selatan (Korsel), berencana berinvestasi di lima sektor di Provinsi Sulawesi Tengah. Itu dilakukan setelah adanya rencana pembukaan kerjasama "provinsi kembar" antara Sulteng (Indonesia) dengan Cheollanam-do (Korsel) pada pertengahan April mendatang.
Lima sektor yang akan dimasuki pihak Korsel adalah industri pertanian, industri perikanan, bio energi, industri pertambangan, dan pembangunan infrastruktur ramah lingkungan.
Kim Young Soo, penghubung kerja sama provinsi kembar itu mengatakan untuk menindaklanjuti rencana investasi itu, Gubernur Cheollanam-do, Park Joon Yung, disertai puluhan pengusaha Korsel, merencanakan datang ke ke Palu selama beberapa hari mulai 12 April 2009.
"Setibanya kami di Palu akan dilakukan penandatanganan kerjasama (MoU) provinsi kembar, antara Gubernur Sulteng (HB Paliudju) dengan Gubernur Cheollanam-do (Park Joon Yung). Kemudian, ditindaklanjuti oleh pengusaha Korsel dan Sulteng," katanya.
Pimpinan salah satu perusahaan investasi ini, juga mengatakan, sebagai tahap awal bentuk kerjasama itu, pihak Korsel menghibahkan 152 kapal penangkap ikan kepada Pemprov Sulteng untuk kepentingan peningkatan pendapatan nelayan setempat. Kapal penangkap ikan dalam bentuk second hand itu bertonase antara 20 hingga 300 gross ton.
Sementara kewajiban bagi Pemprov Sulteng di awal kerjasama ini, yaitu menyediakan 100.000 hektar lahan untuk dijadikan lahan pengembangan tanaman jagung, ubikayu (tapioka), dan kelapa sawit.
"Tapi bentuk kerjasama yang saling menguntungkan ini akan dikembangkan lebih luas lagi, setelah dilakukan perundingan antara para pengusaha Korsel dengan Sulteng di Palu nanti," katanya.
Wakil Ketua Badan Pelaksana Kawasan Pembangunan Industri Terpadu Palu, Donggala, Parigi-Moutong, dan Sigi (Kapet Palapas), Hasan Haris, mengatakan Pemprov Sulteng memang terus berjuang menarik investasi (PMA dan PMDN) sebesar mungkin guna mempercepat peningkatan pendapatan rakyat dan daerahnya.
Karena itu, katanya, lembaganya yang sudah dipercayakan Gubernur Sulteng untuk memediasi kerja sama provinsi kembar ini, pihaknya akan membantu semaksimal mungkin agar rencana investasi besar-besaran oleh para pengusaha Korsel itu berjalan lancar.
"Untuk memajukan pembangunan di Sulteng kita tidak bisa hanya berharap investasi dari pemerintah, tetapi harus aktif mendorong masuknya arus investasi sektor swasta, dan ini sudah menjadi komitmen pengurus Kapet Palapas," katanya.
Posted by Ochan Sangadji at 11:30 PM 0 comments Links to this post
Monday, March 23, 2009
Ribuan Hektar Kebun Kakao di Morowali Terendam
Ribuan hektar areal perkebunan kakao milik warga di Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali, rusak terendam banjir akibat luapan Sungai La’a.
Sekretaris Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) Kabupaten Morowali, Darmansyah mengatakan, selain areal perkebunan kakao, air juga menggenangi sekitar 526 hektar areal persawahan, 161 hektar tambak dan 163 hektar kebun palawija. “Banjir sudah meluas ke 13 desa di kecamatan itu,” katanya.
Dia menyebutkan, banjir yang terjadi kurun sepekan terakhir ini juga menggenangi satu gedung SD dan gedung sekolah Taman Kanak-kanak (TK), sembilan unit tempat ibadah, puskesmas, gedung balai desa dan 21 buah jembatan. “Kami baru menerima laporan dari Petasia, sudah 13 desa terendam air dan sebanyak 1.313 kepala keluarga atau 4.682 jiwa penduduk sudah diungsikan,” ujarnya.
Dia menyebutkan, dengan bertambahnya desa yang tergenang luapan sungai La’a tersebut kerugian akibat bencana banjir diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Namun sampai saat ini tim Pemkab Morowali yang berada di lokasi bencana terus melakukan pendataan terhadap jumlah kerusakan yang terjadi akibat banjir itu.
“Sampai saat ini kami belum bisa menghitung secara pasti jumlah kerugian yang diakibatkan banjir kali ini,” ujarnya.
Sebelumnya dilaporkan, banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Morowali telah mengakibatkan kegiatan belajar-mengajar di sejumlah sekolah di daerah itu hingga kini terhenti.
"Ada ratusan siswa SD di Kecamatan Petasia tidak bisa mengikuti proses belajar, karena bangunan sekolah mereka terendam banjir," kata Sutrisno Sembiring, kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Sulteng.
Ia menjelaskan ada tiga sekolah yaitu SD Togo Mulya, kelas jauh Korongkana, dan kelas jauh Ulula di Kecamatan Petasia terendam banjir dan tidak bisa digunakan untuk proses belajar-mengajar.
Pemprov Sulteng dan Pemkab Morowali telah menyalurkan bantuan berupa bahan makanan dan obat-obatan bagi para korban banjir di 13 desa di Kecamatan Petasia.
Desa-desa yang terendam banjir berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS), sehingga ketika terjadi banjir, airnya meluap hingga ke tempat pemukiman warga.
Setiap kali banjir dan airnya meluap, kebanyakan rumah penduduk di 10 desa itu dipastikan terendam karena memang berada di sepanjang DAS Sungai La`a. ***
Posted by Ochan Sangadji at 3:43 PM 0 comments Links to this post
Kampanye Golkar Makan Korban
AMPANA - Kampanye terbuka Partai Golongan Karya (Golkar) Tojo Una-Una—sekitar 8 jam perjalanan dari Kota Palu--- Minggu (22/3) siang, menelan korban. Seorang siswa kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ampana bernama Acin (15) terjatuh dari truk saat baru mau ke lokasi kampanye di Desa Padang Uloyo, Ampana Tete. Kondisinya kritis.
Informasi yang dikumpulkan menyebutkan, lokasi jatuhnya Acin di Desa Balanggala, Ampana Tete. Dia pergi kampanye pada pukul 12 siang. Acin bersama puluhan kawannya hendak pergi berkampanye memakai mobil truk. Dalam keriuhan meneriakan yel-yel Partai Golkar, Acin tak melihat kalau di depannya ada ranting pohon yang menjulur ke badan jalan. Dan sekejap saja saat mobil-mobil melaju, kepalanya tersambar ranting pohon di atas jalan. Dia lalu jatuh. Darah pun berceceran.
“Dia jatuh dari atas truk yang mereka naiki, karena tersangkut ranting pohon jambu mente yang menjulur ke jalan. Kepalanya pecah dan matanya memar-memar membiru disapu ranting kayu,” kata Muhammad Irsan, Sekretaris Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kabupaten TojoUna Una.
Menurut Muhammad Irsan, kampanye Partai Golkar yang dijadwalkan pukul 14.00 Wita tersebut akan dipusatkan di Desa Padang Uloyo, yang letaknya tak jauh dari Kota Ampana, ibu Kota Kabupaten Tojo Una-Una. Kampanye terbuka Partai Golkar ini dihadiri ribuan massa dari pelbagai penjuru kota di Ampana. Meski hanya dihibur artis lokal, tapi Partai Golkar mampu menguningkan Kota Ampana.
Korban Acin yang merupakan anak pertama dari enam bersaudara kini mendapat perawatan intensif di bagian gawat darurat (ICU) Rumah Sakit Ampana. Hingga kini Acin masih tak sadarkan diri. “Puluhan orang membesuk Acin. Kondisinya gawat, mudah-mudahan dia selamat,” kata Muhammad Irsan.
Irsan menilai Partai Golkar bertanggungjawab atas tragedi ini. Selain, karena Acin masih di bawah umur tak boleh ikut kampanye, juga termasuk perawatan korban. Dia menyebutkan, baru caleg Said Badjeber dari Partai Golkar yang datang membesuk.
Panwas serta KPU setempat, kata Irsan, juga tak bisa lepas tangan. Pasalnya, dalam kampanye terbuka anak-anak di bawah umur tidak diperbolehkan ikut dalam kampanye. “Itu artinya, KPU gagal dalam melakukan sosialisasinya,” ujar Irsan.
Orang tua korban kecewa terhadap Panwas yang tak mampu menertibkan parpol yang melibatkan anak-anak dalam kampanye. Ia juga mengaku pasrah atas kejadian ini. Dia menyebutnya ini mungkin sudah merupakan suratan takdir bagi anaknya. “Saya serahkan semua kepada Tuhan. Saya sudah pasrah,” kata Iswati, ibu Acin. ***
Posted by Ochan Sangadji at 3:17 PM 0 comments Links to this post
Monday, March 16, 2009
Maestro Dadendate, Terpuruk di Gubuk Kanker
YASAMOMI (52), sang maestro seni Dadendate asal Kabupaten Donggala yang selama bertahun-tahun mengharumkan nama daerah, saat ini menderita sakit kanker payudara.
Hari-harinya dijalani dengan penderitaan di sebuah gubuk reot yang telah ditempatinya selama bertahun-tahun di desa kelahirannya, Taripa, Kecamatan Sindue, sekitar 40 km arah utara Kota Palu. Saban hari sejak beberapa bulan terakhir sang maestro Dadendate yang selalu memerankan permainan kecapi merangkap vokalis itu, lebih banyak berbaring di lantai semen tanpa kasur, melainkan hanya beralaskan tikar tua nan kusam.
Ironisnya, baru setahun lalu, Yasamomi mewakili Kabupaten Donggala tampil pada Pekan Budaya Sulteng di Kabupaten Tolitoli. “Beginilah kondisi kami tanpa daya, tidak memiliki uang untuk berobat sehingga tidak ada masuk ke rumah sakit,” ucap Yasamomi terbata-bata.
Menurut ibu 6 anak dan 11 cucu ini, derita kanker ini sudah beberapa tahun menderanya. Awalnya, ia masih bisa menahannya, namun belakangan ini, istri La Tarompo (53) yang juga pemain Dadendate ini, sudah tak kuasa menyembunyikan penyakit yang dideritanya.
Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Tengah (DKST) Hj. Ince Mawar Lasasi yang membesuk Yasamomi akhir pekan lalu,menyatakan rasa keprihatinannya sekaligus sedikit memberi bantuan ala kadarnya.
“Mestinya pada saat seperti inilah seniman yang pernah berjasa pada daerah harus tetap diperhatikan pemerintah. Jangan hanya pada saat diperlukan untuk tampil membawa nama daerah, seniman dicari-cari demi menyelamatkan nama daerah, tapi giliran dia sakit seakan dicampakkan tak ada yang peduli,” ucap Ince Mawar.
Keprihatinan juga disampaikan Muslimah, Kasubdin Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Sulteng. Bersama Ketua DKST, dia menyerukan untuk segera dilakukan penggalangan dana untuk pengobatan Yasamomi.
Kesenian tradisi Dadendate merupakan nyanyian rakyat berbahasa Kaili komunitas Kori dan Rai di Desa Taripa, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Dinyanyikan senimannya secara spontanitas dan improvisasi secara puitis diiringi kecapi dan mbasi-mbasi oleh penyairnya.
Dadendate berasal dari kata dade yang berarti lagu dan ndate berarti panjang. Jadi secara harfiah, dadendate adalah lagu (nyanyian) panjang atau dikatakan lagu yang bercerita suatu tema dari awal sampai akhir dalam bentuk berita yang utuh. Sebagai nyanyian pembawa berita, selalu aktual sesuai kontes peristiwa. ***
Posted by Ochan Sangadji at 6:14 PM 0 comments Links to this post
Mengganti Formalin dengan Asap
PENGGUNAAN formalin sebagai bahan pengawet makanan akhir-akhir ini, membuat banyak kalangan cemas, dan kemudian harus berhati-hati mengonsumsi makanan.
Fenomena ini membuat, Mappiratu, seorang guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Tadulako (Untad) mencari solusi untuk meminimalisir penggunaan formalin sebagai pengawet makanan.
Akhir tahun 2008 lalu, pria kelahiran Bira, Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan ini, telah merampungkan satu penelitiannya yang diberi judul “Penggunaan Sabut Kepala untuk pembuatan Asap Cair dan Briket”.
Maksudnya, jika saat ini kita mengenal sabut kelapa hanya digunakan untuk kayu bakar dan bahan baku kerajinan, maka melalui tangan terampil Mappiratu, sabut kelapa dapat digunakan menjadi briket yang dapat menggantikan minyak tanah. Sementara asap dari hasil pembakarannya dapat dijadikan bahan pengawet, yang menggantikan formalin.
Dalam penelitiannya itu, profesor yang tinggal di Jalan Tekukur, Perumahan Dosen Untad ini, mendesain sebuah alat dinamakan: Destilator Spironisis.
“Waktu penelitian banyak tersita untuk pembuatan alat. Alhamdulillah ada satu yang bisa menghasilkan kualitas baik,” kata Mappiratu.
Destilator Spironisis ini berbeda dengan yang dibuat oleh para peneliti sebelumnya. Dalam pengerjaannya, digunakan sabut yang dibakar langsung dalam reaktor, dan ditambahkan secara berangsur-angsur, tanpa menggunakan bahan bakar seperti minyak tanah.
“Kalau prosesnya, kita bakar langsung sabut di dalam reaktor, kemudian kita tutup, dan asapnya itu yang dialirkan melalui sebuah selang ke tempat penampungan yakni destilator, dan perlahan-lahan akan menjadi seperti embun, dan menghasilkan cairan. Itulah namanya asap cair,” jelasnya singkat
Arang hasil pembakaran sabut kelapa tersebut digunakan lagi menjadi briket, yang dapat menggantikan penggunaan bahan bakar minyak tanah.
Mappiratu menyebutkan, untuk satu kilo arang briket dapat mendidihkan dua liter air dalam waktu enam menit. Untuk 11 kilogram sabut kelapa, dapat menghasilkan 1 liter asap cair dan 2,2 kilo gram arang briket.
Selama ini kata Mappiratu, harga jual asap cair dapat mencapai Rp20 ribu per liternya. “Kalau di Jawa, rata-rata mereka menggunakan asap cair ini untuk bahan untuk membekukan karet,” ungkap bapak tujuh anak ini.
Komposisi kimia yang terkandung dalam asap cair tersebut kata Mappiratu adalah Venol, Karbonin, Asam dan PH. Ini sama dengan komposisi asap cair untuk penggumpalan karet.
Hasil penelitian ini, kata dia, amat berguna bagi petani kopra. Karena, para petani kopralah yang banyak memiliki bahan bakunya.
Dia berharap, hasil penelitian ini berguna bagi masyarakat luas. Khususnya bagi para kalangan pelaku usaha industri kecil, yang masih menggunakan formalin untuk mengawetkan bahan makanan hasil produksi mereka.
“Saya prihatin dengan penggunaan formalin dalam beberapa bahan makanan. Masyarakat mesti tau bahaya penggunaannya jika dikonsumsi manusia,” tandas Mappiratu.
Posted by Ochan Sangadji at 6:11 PM 0 comments Links to this post



