Friday, August 29, 2014

Kaddisch fur einen Freund, Melawan Kebencian Antarmanusia

Kaddisch fur einen Freund (2011), sebuah film terbaik Jerman dengan durasi 94 menit itu mampu memukau para pencinta film di Kota Palu. Film yang disutradarai Leo Khasin dengan pemeran Ryszard Ronczewski, Neil Belakhdar, Neil Malik Abdullah, Sanam Afrashteh, Kida Khodr Ramadan itu, berkisah tentang hubungan Israel dan Palestina dalam konteks yang lebih kecil: tetangga, dengan latar yang unik pula.


Tumbuh di tengah kamp pengungsi, remaja berusia 14 tahun Ali Messalam (Neil Belakhdar) sudah belajar membenci Yahudi sejak masa kecilnya. Setelah berhasil keluar dari Lebanon, akhirnya keluarganya mendapat tempat tinggal di daerah Kreuzberg, di Berlin, Jerman. Ali segera mencoba berteman dan masuk lingkungan permainan anak-anak muda di lingkungannya.

Tapi ternyata tidak mudah. Ia harus membuktikan dulu keberaniannya. Ia diminta oleh teman-temannya mendobrak flat tempat tinggal seorang Yahudi-Rusia pensiunan tentara, Alexander (Ryszard Ronczewski). Bersama-sama mereka merengsek masuk dan mengobrak-abrik segala perabotan dalam flat itu.

Sialnya, Alexander pulang lebih awal dari yang mereka perkirakan dan berhasil mengenali Ali sebagai salah satu penjahat cilik yang masuk ke rumahnya. Alexander melaporkan Ali ke polisi. Untuk dapat melepaskan diri dari tuntutan termasuk ancaman deportasi yang mengikutinya, hanya ada satu cara, Ali harus mendekati dan meminta dukungan dari orang tua yang dibencinya itu.

Leo Khasin nampak sangat berhati-hati menyusun skenario dan cerita film ini. Film ini  menjadi sebuah pernyataan untuk melawan kebencian antarmanusia, baik dalam konteks lokal maupun global. Namun film ini terasa sangat hidup saat ditonton.
 
Film Jerman ini menjadi salah satu film terbaik  yang diputar di Palu pada Selasa (26/8) malam di Gedung Serbaguna Madamba Pura RRI Palu, dalam acara German Cinema Film Festival, yang diadakan Goethe-Institute Indonesia. Soraya Pinta Rama, aktivis Bioskop Jumat Palu yang menjadi mitra Goethe-Institute Indonesia di Palu ini menjelaskan, German Cinema Film Festival ini merupakan yang kedua kalinya, setelah sukses di tahun 2013 lalu.

“Kegiatan ini menjadi acara penting budaya Jerman dalam kalender budaya Indonesia di Kota Palu,” kata Soraya Pinta Rama, Rabu (27/8) malam di Palu.

Wakil Walikota Palu, Andi Mulhanan Tombolotutu yang membuka secara resmi German Cinema Film Festival itu mengatakan, Pemerintah Kota Palu membutuhkan banyak komunitas berbasis minat, yang berperan dalam memberi gagasan-gagasan kreatif bagi perkembangan Kota Palu.

“Sebagai unsur yang unik dalam masyarakat, komunitas itu pemangku kepentingan juga. Kalian adalah stakeholders penting di Kota Palu,” kata Wakil Walikota Palu.

Mulhanan juga mengatakan, dalam waktu dekat,  publik Kota Palu segera medapat menikmati banyak film, karena  bioskop akan segera dibangun  di Mall Tatura Palu.

Tahun ini,  akan diputar sebanyak sembilan judul film selama tiga hari berturut-turut, setiap pukul 14.00, 16.00, dan 19.30.

Film-film yang diputar selama pelaksanaan adalah film-film terbaik Jerman dari beragam genre dan tema. Hari pertama jumlah total penonton di tiga sesi pemutaran film sebanyak 170 orang. Yang terbanyak ada di sesi ketiga film berjudul Love Steaks.

Seperti dikutip dari http://www.goethe.de Clemens (Franz Rogowski) dan Lara (Lana Cooper) bekerja di hotel yang sama di kawasan pariwisata Ostseek├╝ste. Namun, kecuali tempat kerja itu, mereka tidak memiliki kesamaan sedikit pun. Hotel mewah tempat mereka bekerja adalah lingkungan yang kaku, ditata dengan berbagai peraturan, dan di sana setiap individu dan benda sudah ditentukan fungsinya.

Di dapur misalnya, masakan-masakan bagi konsumen kelas atas dipersiapkan, sementara di bagian Kesehatan tersedia layanan-layanan yang memungkinkan para pengunjung membuang beberapa kilogram kelebihan lemak tubuh mereka. Namun, setelah pertemuan tak sengaja di dalam lift, Clemens dan Lara tak terpisahkan lagi.

Orang bilang, yang berlawanan justru saling tarik-menarik. Lara selalu memberi kesan perempuan tangguh dan jagoan menenggak alkohol. Clemens sebaliknya, selalu ragu dan malu serta percaya sepenuhnya pada Ayurveda. Peluh, darah dan air mata mengalir. Cinta serupa medan perang. Mereka saling mencoba, saling menjelajahi, memukul, mencium, membelai. Perasaan sayang malambung lalu terempas. Apakah mereka akhirnya bisa saling menemukan?

Love Steaks adalah kisah cinta yang dibungkus dalam kerangka sebuah dunia kerja di Jerman. Kisahnya mengetengahkan keseharian di sebuah hotel besar yang memiliki hirarki yang tak terpatahkan, manusia-manusia saling berseliweran dalam kehampaan yang dingin, setiap karyawan tak lebih dari secuil permukaan roda bisnis yang berputar. Komedi tragis Jakob Lass mendapat empat penghargaan sekaligus. Untuk pertama kalinya di Festival Film Munich 2013 sebuah film menyapu bersih semua kategori dari mulai penyutradaran, produksi, skenario sampai aktris dan aktornya. ***



No comments: