Tuesday, November 18, 2008

Berbukit, Berbatu dan Berkelok


Mobil Kijang Avanza warna merah itu melaju kencang. Tiba-tiba, sekitar pukul 12 malam, roda bagian depan berbunyi tidak seperti biasanya. “Muhlis, kenapa roda depan bunyinya lain,” begitu saya bertanya kepada sopir mobil Avanza yang ku sewa ke Morowali.

Ia menghentikan mobilnya, dan parkir di pinggiran jalan di Kelurahan Moengko, tepatnya di depan Depo Pertamina Poso. Saya dan Muhlis turun dari mobil. Ia kemudian membuka ban mobil itu, ternyata ada yang rusak. Perjalanan ke Morowali pun jadi terhambat.

Suasana begitu sunyinya. Yang ada hanya tiga orang masih ngobrol di depan rumahnya. Saya lalu menyapa mereka. Yang paling tua dipanggil dengan nama Papa Citra. Dia kemudian membantu kami. Tapi, alat mobil yang rusak itu tidak bisa diperbaiki, kecuali harus diganti. Bengkel sudah tutup. Malam itu, kami terpaksa tidur di mobil, sambil menunggu pagi datang.

Dalam tidur malam itu, saya teringat kembali masa lalu di tahun 2000. Waktu itu, di masjid Depo Pertamina itu, saya bersama anggota TNI Detasemen Zeni Tempur (Den Zipur) dari Makassar yang ditugaskan membawa mobil panser ke Poso, untuk mengamankan kerusuhan. Di Depo Pertamina itulah kami berhenti. Kami sempat menyelamatkan satu keluarga keturunan Jawa, yang lari tunggang langgang karena kampungnya diserang.

Kami menyelematkannya dan mengamankannya di masjid Depo Pertamina itu. Waktu itu, Mei 2000, saya menyarankan kepada anggota Denzipur itu, bahwa karena keluarga itu beragama Islam, sehingga sebaiknya amankan dulu di masjid itu, sembari menunggu pagi. Begitu pagi datang, keluarga muslim yang rumahnya sudah dibakar perusuh itu, kami antar ke markas Kodim 1307 Poso.

Air mata saya meleleh ketika mengingat masa itu. Saya tidak membayangkan, jika saja mobil kami yang rusak di malam buta itu, pas ketika Poso masih dilanda kerusuhan. Mungkin saja saya dan Muhlis sudah dihabisi para perusuh. Dalam tangisku, saya pun hilang dalam ketidaksadaran malam.

Hari sudah terang. Saya melihat jam di tanganku, waktu menunjukkan pukul 08.30 wita. Ku dengar Muhlis si sopir rentalku mengetuk-ngetuk alat mobil yang rusak itu. Saya bangun dan melihat mobil yang ku tumpangi sudah berada di depan bengkel sepeda motor, yang berjarak hanya sekitar 5 meter dari tempat berhenti pertama di malam itu.

“Chan, kita ke dealer Haji Kalla saja. Kita beli lahar (gotri) di sana. Gotrinya pecah jadi harus diganti,” kata Muhlis. “Berapa harganya,” saya bertanya pada Muhlis. “Mungkin sekitar 100 ribu rupiah,” jawab Muhlis lagi.

Saya pamitan kepada pemilik bengkel sepeda motor itu, untuk cuci muka di belakang. Kebetulan bengkelnya satu bagian dengan rumahnya yang hanya berdinding papan itu. Setelah mencuci muka, ku teguk air mineral bekal perjalananku ke Morowali. Ku hisap sebatang rokok lalu ku rogoh hand phone dari saku ku.

“Assalamu alaikum. Kak Mansyur, gmn kabar?,” tanyaku. “Baik alhamdulillah. Siapa nih,” tanya Mansyur. “Saya ochan bos,” jawabku. “Heiiiiiiii ochan, di mana ki...,” tanya Mansyur dengan dialeg bugisnya. “Saya ini mau ke Morowali, tapi tadi malam gotri mobilku pecah. Saya di Poso,” kataku. Mansyur menimpali, “Di mana ki sekarang. Ke kantor ki saja, dan cari Yunus di sana, bilang disuruh Mansyur. Saya lagi di Makassar ki Chan,” katanya. Mansyur ini adalah Kepala Cabang PT Haji Kalla di Poso.

Meminjam sepeda motor pemilik bengkel, saya dan Muhlis ke Dealer PT Haji Kalla. Yunus yang ku cari belum datang, karena masih pagi. Kami bertemu dengan salah seorang bawahannya, yang akhinrya menjual gotri mobil dengan separuh harga. Harganya Rp 400 ribu tapi disuruh membayar Rp 200 ribu saja.

Mobil diperbaiki dan kami pun melanjutkan perjalanan ke Morowali. Namun sebelumnya, kami harus sarapan. “Kita sarapan Coto Makassar saja,” kataku kepada Muhlis. Coto Makassar ini menjadi makanan andalanku selama liputan di Poso. Banyak yang mengakui bahwa Coto Makassar Poso ini paling enak. Lokasinya berdekatan dengan Markas Kodim 1307 Poso.

Coto Makassar Poso

Jam menunjukkan pukul 09.00 Wita di hari Jumat (14/11). Ku suruh Muhlis agar mengempiskan sedikit ban mobilnya biar tak terlalu menghentak kalau di jalanan yang rusak. Setelah itu kami pun berangkat ke Morowali. Setelah melewati beberapa kelokan, perut saya terasa mual sampai akhirnya saya tertidur. Saya tak tahu lagi ketika mobil yang kami tumpangi telah melewati Tentena. Saya terbangun setelah mobil tiba di perbatasan Poso Morowali.

Ku lihat jarum jam telah menunjukkan pukul 13.00 wita. Perutku mulai kriuk...kriuk....Ku buka bekal keripik yang ku beli di salah satu swalayan di Palu. Saya dan Muhlis makan keripik itu. Dua bungkus habis.

Tapi perut masih saja lapar, karena jalanan tak bersahabat. Selain berkelok-kelok, juga berlobang dan berbatu. Dari 500 kilometer, saya hanya menikmati perjalanan mulus sejauh 50 kilometer. Akhirnya, sekitar pukul 15.00 Wita, kami tiba juga di Bungku, ibukota Kabupaten Morowali. Setelah berputar-putar mencari Pom Bensin untuk mengisi perut mobil kami, mobil Avanza pun melanjutkan perjalanan ke Bahodopi.

Jalanan kembali tidak bersahabat. Mendaki, berkelok-kelok, berlobang dan berbatu menjadi sahabat selama perjalanan. Di Desa Pungkoilu, Bungku Tengah, kami berhenti. Ku cari seorang pamanku di kampung itu. Paman ini meninggalkan kampung halaman kami di Tidore, Maluku Utara sejak tahun 1953. Meski belum pernah mengenalnya, akhirnya kami bisa bertemu juga. Setelah aku memperkenalkan diri, ku dipeluk, dicium dan dia menangis. Usia pamanku ini sudah 67 tahun. Sudah terlalu tua untuk menangisi ponakannya yang baru pertama kali bertemu.

Anak perempuannya yang sudah berusia 38 tahun dipanggil Isi, menyeduh teh untuk saya dan Muhlis. Kami minum teh sambil memakan roti. Dua potong roti berisi kelapa, ku habiskan. Sambil ngobrol melepas kangen, kami pamit ke Bahodopi. Pamanku dengan suara terbata-bata Ditunjukkannya jalan kepada saya dan Muhlis. Lagi-lagi perut belum diisi nasi, sementara jalanan tidak bersahabat. Berkelok-kelok, berlobang dan berbatu. Mobil kami sempat tergelincir, namun Muhlis dengan sigapnya berhasil keluar dari masalah itu.

Dalam perjalanan, saya melirik ke kanan di sebuah bukit, ada sebuah papan nama terbuat dari beton, bertuliskan “Benteng Fafontofure”. Ku minta Muhlis berhenti sejenak. Ku ambil gambar tulisan itu. Perjalanan dilanjutkan. Berbukit-bukit, berkelok-kelok dan berlobang kembali menjadi pengalaman mengasyikan.

Jam menunjukkan pukul 18.30 Wita. Kami tiba di Desa Bahomotefe, Kecamatan Bungku Tengah. “Muhlis, kita berhenti di rumah makan itu. Kita makan dulu. Saya sudah terlalu lapar,” kataku. Muhlis lalu memarkir mobilnya di halaman rumah makan yang luas. Ternyata halaman itu adalah pasar tradisional yang buka setiap hari Sabtu.
Ku pesan ikan dan cumi-cumi. Ku pilih ikan Baronang dan seekor cumi-cumi sedang. Kami makan dengan lahapnya. Ku tanya kepada pemilik warung, di mana letak Desa Bahodopi. Ku dapat penjelasan bahwa Desa Bahodopi masih sekitar 4 kilometer lagi. “Huh....kenapa sangat jauh. Kayaknya tidak ada ujungnya ini Morowali,” kataku dalam hati.

Ku sampaikan maksudku ke Bahodopi. Pemilik warung mengatakan kepada saya: “Nginap saja di sini. Nanti cerita dengan bapak sini mengenai INCO yang sudah terlalu lama berjanji kepada kami di sini,” kata pemilik warung yang ku taksir usianya sudah sekitar 35 tahun itu. Ternyata saya tak salah berhenti di warung makan yang sederhana itu.

Blok Bahodopi di Bahomotefe

Namanya Blok Bahodopi, tapi dari 11 desa yang masuk dalam areal konsesi PT INCO Tbk. Ternyata desa terbesarnya adalah Bahomotefe. Saya kemudian mewawancarai bapak pemilik warung, yang kebetulan namanya sama dengan sopir mobil yang ku sewa. Muchlis Thahir, begitu nama si orang tua itu. Di pertengahan wawancara, Pak Muchlis Thahir kemudian mengundang Kepala Desa Bahomotefe dan dua tokoh masyarakat lain.

Kami lalu bertemu dengan Sudin Ahda, kepala Desa Bahomotefe, Anwar Seho (58), tokoh masyarakat Bahomotefe, Sahrir Yakub (43), masyarakat Bahomotefe, Sahrir Yakub (43), masyarakat Bahomotefe, Jalam (38), Kepala Desa Onepute Jaya, transmigran asal Ciamis Jawa Barat, Muhammad Sunusi (67), mantan kepala sekolah SDN Onepute Jaya, dan lain-lain yang saya temui untuk wawancara.

Arloji di tanganku sudah menunjukkan pukul 02.00 Wita dini hari. Saya pamit tidur dan berjanji paginya akan kembali mewawancari warga setempat. Paginya pukul 08.00 wita saya bangun. Di luar sudah sangat ramai. Ternyata hari itu adalah hari Pasar Bahomotefe. Orang dari berbagai desa tumplek plek di pasar itu. Jadi, saya pun dengan mudahnya mencari warga yang bisa diwawancarai mengenai masalah kasus INCO.

Sampai akhirnya kami kembali ke Bungku dan bertemu dengan Bupati dan mencari data lain di Ibukota Kabupaten Morowali. Sayangnya, Bupati Anwar Hafid terlalu bikroratis. Untuk bertemu dengan seorang bupati di daerah terpencil seperti Morowali saja, harus pakai janji dua hari sebelumnya.

Tapi tak apa. Aku bisa mengambil data soal INCO dari mana saja tanpa lewat bupati. Aku bertemu dengan dua kawan lama di sana. Dulunya kami satu sekolah. Muhammad Zen dan Abd. Rahman. Keduanya banyak cerita ke saya, soal bagaimana Bupati yang bernama Anwar Hafid itu. Ku pikir, data yang ku butuhkan sudah cukup. Pukul 17.00 waktu setempat, aku pun berpamitan balik ke Palu. Selamat tinggal Morowali. ***

No comments: