Saturday, June 23, 2007

Membangun Kota Cengkeh dengan Totata Tosamin


Ruslan Sangadji

Kapal motor kayu hendak merapat ke Pelabuhan Dede Tolitoli, Sulawesi Tengah. Dari kejauhan, sejauh mata memandang, di atas pegunungan berbaris rapi pohon cengkeh nan hijau. Nyaris, tak ada pohon lain di pegunungan Tolitoli, kecuali tanaman bahan baku rokok itu. Maka, kota ini pun dikenal dengan sebutan Kota Cengkeh.

Tolitoli, kota kecil nan indah di bagian utara Provinsi Sulawesi Tengah. Penduduknya, rata-rata adalah para pendatang Bugis-Makassar. Lantaran itu, komunikasi sehari-hari pun lebih banyak menggunakan bahasa Bugis. Penduduknya sangat sedikit, tercatat sekitar 190.579 jiwa, pertumbuhan ekonominya tahun 2002, sekitar 6,76 persen, dan Produk Domestik Regional Bruto tahun yang sama Rp 854.993 juta.

Meski penduduk Kota Tolitoli adalah komunitas Bugis, tapi ada tiga suku besar di wilayah itu, yakni suku Tolitoli, Dondo dan Dampal. Dari suku besar itulah yang menginspirasi lahirnya nama Kabupaten Tolitoli, yang berarti tiga manusia kayangan yang menjelma ke bumi. Berdasarkan ceita rakyat, ketiga manusia kayangan itulah yang disibolkan dengan suku besar tersebut.

Tolitoli, secara topografis daerahnya datar, berbukit dan pegunungan. 47 persen wilayahnya berada di ketinggian antara 100-500 meter di atas permukaan laut. Maka, cengkeh pun menjadi sangat subur hidup di kawasan ini.

Kurun lima tahun terakhir ini, produksi cengkeh terus naik. Tahun 1998 misalnya, cengkeh dihasilkan 1.448 ton, lalu 2.174 ton tahun 2000, dan hingga Oktober 2002 sekitar 6.350 ton. Cengkeh Tolitoli termasuk nomor satu di Indonesia. Jenis utama yang banyak ditanam di sini adalah zanzibar, siputih, dan sikotok. Dari panen raya tahun lalu, tercatat hanya berkisar 8.000 ton. Angka ini terbilang kecil dari panen raya sebelumnya.

Cengkeh, menjadi andalan utama. Tapi, disamping itu masih banyak potensi yang memiliki nilai ekonomi tinggi di kabupaten ini. Semua potensi itu tak bisa dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa perencanaan dan konsep yang jelas. Semuanya harus digarap maksimal untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. Maka, Pemerintah Kabupaten Tolitoli pun menggagas konsep kerjasama ekonomi dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Philipina, yang disebut dengan konsep "Totata-Tosamin" atau Tolitoli, Tarakan, Sandakan, Tawau dan Mindanau.

Konsep kerjasama ekonomi itu tidak berdiri sendiri, tapi berdasarkan pada sejarah perdagangan masa lalu. Di mana pada tahun 1950-1967, telah terjadi hubungan dagang yang intensif antara masyarakat di Dampal (Tolitoli) dengan Tawau di Malaysia. Hanya saja, saat itu masih bekerjasama untuk perdagangan kopra. Dari situlah kemudian menginspirasi pemerintah setempat untuk menggagas kembli kerjasama tersebut.

"Tapi konsep dan perencanaan Totata Tosamin itu lebih matang dan modern," kata Bupati Tolitoli, M. Ma'ruf Bantilan kepada The Jakarta Post via telepon selular dari Bandung, Sabtu (23/6) siang.

Bupati Tolitoli, M' Ma'ruf Bantilan menjelaskan, formalisasi hubungan ekonomi dalam kerangka Totata-Tosamin itu, diawali dengan rintisan kerjasama yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tolitoli dengan Malaysia. Tahun 2000 silam, pemerintah setempat mengirimkan surat kepada Majelis Perbendaran Tawau Negeri Sabah Malaysia, mengenai rencana kunjungan misi dagang dan investasi. Bersamaan dengan itu, data potensi peluang investasi Tolitoli pun dikirimkan ke Negeri Sabah Malaysia.

Surat itu direspon dengan baik oleh Majelis Perbendaran Tawau, yang dibuktikan dengan surat balasannya tanggal 1 September 2000, bahwa mereka bersedia menerima delegasi Tolitoli. Maka, tanggal 10 November 2000, dimulailah hubungan dagang yang formal antara Tolitoli dan Tawau, Malaysia itu.

"Tapi, di balik itu juga kita melakukan pendekatan secara formal dengan Pemerintah Nunukan di Kalimantan Timur, agar mereka bisa mendukung usaha kami ini. Soalnya, Nunukan itu berada di perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. Akhirnya, mereka pun memberikan respon positif bagi Tolitoli," tambah Ma'ruf Bantilan.

Dari situlah, Pemerintah Kabupaten terus mendorong pengembangan beberapa potensi yang akan dikerjasamakan dengan Malaisya itu. Antara lain pada sektor tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan, industri dan perdagangan, termasuk pariwisata.

Data Pemerintah Kabupaten Tolitoli menyebutkan, pada periode 2000-2004 saja, luas panen tanaman pangan meningkat sebesar 26,62 persen yang meliputi tujuh jenis tanaman pangan, sementaranpada tahun yang sama produksi pun meningkat menjadi 27 persen. Padahal, sebelum ada kerjasama Totata Tosamin itu, angkanya jauh di bawah harapan bersama.

Sementara data Dinas Perkebunan Tolitoli menyebutkan, tingkat produktivitas tanaman kelapa sebesar 1,04 persen per hektar tahun 2000, meningkat menjadi 1,08 persen per hektar pada tahun 2004. Tanaman kopi meningkat dari 0,12 persen pada tahun 2000, menjadi 0,32 persen tahun 2004.

Belum lagi pada sektor peternakan. Selama periode 2002-2004, telah terjadi peningkatan dalam populasi ternak. Jumlah ternak kerbau meningkat sebesar 10,94 persen, sapi 6,59 persen, kambing 27,11 persen dan unggas menjadi 70 persen. Sektor periknanan dan tambak pun meningkat. Tahun 2004 produksi ikan laut mencapai 11.093 ton dan luas rambak menjadi 904 hektar dengan produksi 2.044 ton.

Untuk menjawab kerjasama Totata Tosamin itu, insdustri pun mulai tumbuh di mana-mana. Tahun 2004 juga, telah berdiri sebanyak 465 perusahaan atau industri yang beroperasi dalam perkeonomian Tolitoli. Perusahaan tersebut tersebar dalam 15 jenis industri dengan nilai investasi sebesar Rp 7,950,410,000. Tenaga kerja pun dapat terserap sebanyak 1.812 orang.

"Semua peningkatan ekonomi itu, merupakan wujud dari kerjasama ekonomi Totata-Tosamin itu. Jadi, memang keberhasilan implementasi itu sangat menentukan keberhasilan perdagangan Tolitoli," imbuh Bupat Ma'ruf Bantilan.

Setelah sukses dengan konsep Totata-Tosamin ini, Pemerintah Kabupaten Tolitoli tengah menggarap kemungkinan kerjasama ekonomi dengan beberapa negara lain. Namun, sekarang masih sedang dalam penjajakan, yang diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, semua rencana itu bakal terwujud. Semua kerjasama ekonomi itu, kata Bupati Bantilan, semata-mata bertujuan untuk mendorong kesejahteraan rakyatnya.

"Jika kita tidak cepat bertindak untuk mendorong kemajuan daerah kita, maka kita pun akan tertinggal dan terus miskin. Rakyat Tolitoli harus menikmati kejayaannya seperti masa lalu. Dan Pemerintah Kabupaten Tolitoli telah berkomitmen untuk mendorong kejayaan tersebut," tandas Bupati Bantilan. ***

Wednesday, June 20, 2007

Lore Lindu National Park on brink of ruin

Ruslan Sangadji
The Jakarta Post, Palu

The natural beauty of Lore Lindu National Park, one of a handful of flora and fauna conservation centers in Sulawesi, has for years been threatened by development initiatives.

However, if South Sulawesi Governor Bandjela Paliudju has his way, the park, located 60 kilometers to the south of South Sulawesi's capital Palu, will be given a chance to flourish once again.

Last week, Paliudju said based on an existing law on environmental protection, the residents of Dongi-Dongi, a section of the park, would be relocated.

Dongi-Dongi was converted into a residential area in 2001.

At the time, even the South Sulawesi chapter of the Indonesian Forum for the Environment (Walhi), a non-governmental organization, supported plans for development.

Walhi representatives said they believed the Dongi-Dongi area could be developed because a forest concession holder once operated in the area.

"It is not wrong if an area which used to be logged is used by local people who do not have any land," an unidentified member of the organization said in 2001.

However, six years on, the governor said the national park must be protected and any development in the area is illegal.

"Residents will be moved to the South Banawa district in Donggala," he said.

In order to relocate the residents, Paliudju said, his administration had deliberated thoroughly with the Donggala regental administration.

"All parties agreed with the relocation plan," he said.

However, Dongi-Dongi residents disagree, saying they were not consulted about the relocation.

Kuasa Ratalemba, a Dongi-Dongi resident, said he strongly opposes the plan.

"We enjoy living here. Our presence is not destroying this forest. We are maintaining it properly," he said.

Compared with other national parks in Indonesia, Lore Lindu, spanning 217,991 hectares, is medium sized.

The park sits between 200 meters and 2,610 meters above sea level. It serves as the water catchment area for Palu, Donggala and Poso.

The Lariang, Gumbasa and Palu rivers pass through the park, which is rich in flora and fauna.

It is home to various types of native animals, such as deer hogs, ghost monkeys, kuskus, kera kakak tonkea, kuskus marsupial and the biggest carnivorous animal in Sulawesi -- the civet cat.

The park is also home to at least five species of squirrel, 31 species of rat, 55 species of bat and 230 types of birds. ***

Kapolda: Ledakan Itu Hanya Petasan

Ruslan Sangadji

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Polisi Badrodin Haiti, membantah kalau ledakan yang terjadi di halaman rumah Winardi, seorang pengusaha keturunan China di Jalan Garuda Nomor 27 T, Kelurahan Birobuli, Palu Selatan, Selasa (19/6) pukul 22.25 Wita itu adalah bom rakitan. Ledakan itu hanya berasal dari petasan yang secara tidak sengaja dan kebetulan meledak di halaman rumah itu.

"Kita jangan terlalu membesar-besarkan masalah itu. Yang meledak itu bukan bom, tapi itu hanya petasan saja. Coba pikir, logikanya kalau itu bom maka tidak akan diledakan di halaman luar atau di luar pagar. Pasti bom itu akan dilempar ke dalam, paling tidak di teras rumah," tegas Kapolda Badrodin Haiti, kepada wartawan, Rabu (20/6) siang di kantornya.

Menurut Kapolda Sulteng, pihaknya dapat menyimpulkan bahwa ledakan itu berasal dari petasan, karena dilihat dari sejumlah barang bukti berupa karton dan sisa belerang. Bahan-bahan seperti itu, tambah Kapolda, biasanya digunakan untuk bahan petasan.

Berdasrkan pengalaman selama ini menangani kasus bom di Sulawesi Tengah, biasanya pelaku menggunakan pipa paralon atau kaleng biskuit, kemudian ada rangkaian kabel, bubuk black powder atau juga ditambah dengan pupuk. "Tapi semua bahan itu tidak ditemukan di lapangan. Makanya kesimpulan saya sementara bahwa itu adalah petasan," kata Brigjen Badorin Haiti.

Meski begitu, anggota tim identifkasi Polda Sulteng mengatakan, dari hasil identifikasi di lapangan, pihaknya belum dapat menyimpulkan kalau ledakan itu adalah bom atau petasan. "Kita tunggu saa hasil identifikasi dari pusat laboratorium forensik. Tapi, jika dilihat dari beberapa barang bukti di lapangan, memang itu adalah bahan yang biasa digunakan untuk petasan," kata salah seorang anggota tim identifikasi itu.

Seperti diberitakan sejumlah media elektronik, bahwa telah terjadi sebuah ledakan yang diduga berasal dari bom rakitan di halaman rumah Winardi, salah seorang pengusaha keturunan di Jalan Garuda Nomor 27 T, Kelurahan Birobuli, Palu Selatan. Meski begitu tidak menimbulkan korban jiwa, tapi ledakannya terdengar sampai radius satu kilometer.

Beberapa saat setelah ledakan, tim Penjinak Bahan Peledak (jihandak) dari Polda Sulteng, langsung datang ke lokasi, memasang police line dan melakukan pemeriksaan awal. Dari pemeriksaan itu, tim Jihandak menemukan serpihan karton, sisa belerang dan serbuk yang diduga black powder.

Tim Jihandak, tim gabungan identifikasi Polda Sulteng dan Polresta Palu juga melakukan penyisiran di sekitar lokasi. Dari penyisiran itu petugas tidak menemukan apa-apa, kecuali mengumpulkan serpihan-serpihan dari ledakan bekas ledakan itu.

Winardi, pemilik rumah, kepada wartawan mengatakan, ia tidak pernah curiga akan ada ledakan di halaman rumahnya. Ia juag mengaku tak mendengar ada kendaraan atau gerak-gerik orang yang mencurigakan melewati rumahnya. ”Tba-tiba saja saya mendengar ada ledakan, begitu saya keluar saya melihat ada asap hitam tebak di halaman rumah,” katanya.

Polisi belum dapat memberikan keterangan lebih detail soal ledakan itu. Polisi hanya mengatakan, hingga kini pihaknya telah memeriksa tiga orang warga sebagai saksi. Salah seorang warga setempat mengatakan, sebelum terjadinya ledakan itu, ia mendengar ada sebuah mobil Mitsubishi Kuda warna merah melintas dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba saja kecepatannya menurun.

”Nah ketika saya intip ke luar rumah, tiba-tiba ada ledakan dan sudah ada asap hitam tebal di depan rumah pak Winardi,” kata Ratmo (42), saksi yang diperiksa polisi itu.

Salah seorang sumber mengatakan, diduga ledakan itu dilakukan oleh salah seorang kakak dari karyawan Winardi yang dipecat dari bengkel. Yang bersangutan berinsial Ivn. Hanya saja, menurut Winardi, soal pemecetan itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan, sehingga tidak mungkin dilakukan mantan karyawannya itu.

”Masalah pemecatan itu sudah selesai. Kami sudah sepakat atur damai secara kekeluargaan. Jadi tidak mungkin ledakan di depan rumah saya itu dilakukan mantan karyawan saya itu,” ujarnya.

Winardi adalah pemilik bengkel sepeda motor di dekat rumahnya di Jalan Garuda. Bengkel. Beberapa minggu lalu, Winardi memecat seorang karyawannya, karena selalu terlambat bekerja.

Lokasi ledakan itu juga, hanya berjarak sekitar 10 meter dari Space Bar dan Lounge, salah satu tempat hiburan malam terbesar di Kota Palu. Hanya saja, polisi menolak menyatakan bahwa ledakan itu ada kaitannya dengan tempat hiburan malam tersebut.***

Selasa Malam, Sebuah Bom Rakitan Meledak di Palu

Ruslan Sangadji

Sebuah bom berdaya ledak rendah, meledak di halaman rumah Winardi, seorang pengusaha keturunan China di Jalan Garuda Nomor 27 T, Kelurahan Birobuli, Palu Selatan. Meski peristiwa pada Selasa (19/6) sekitar pukul 22.25 itu tak menimbulkan korban jiwa, tapi ledakannya terdengar sampai radius satu kilometer.

Beberapa saat setelah ledakan, tim Penjinak Bahan Peledak (jihandak) dari Polda Sulteng, langsung datang ke lokasi, memasang police line dan melakukan pemeriksaan awal. Dari pemeriksaan itu, tim Jihandak menemukan serpihan karton, sisa belerang dan serbuk yang diduga black powder.

Tim Jihandak, tim gabungan identifikasi Polda Sulteng dan Polresta Palu juga melakukan penyisiran di sekitar lokasi. Dari penyisiran itu petugas tidak menemukan apa-apa, kecuali mengumpulkan serpihan-serpihan dari ledakan bekas ledakan itu.

Winardi, pemilik rumah, kepada wartawan mengatakan, ia tidak pernah curiga akan ada ledakan di halaman rumahnya. Ia juag mengaku tak mendengar ada kendaraan atau gerak-gerik orang yang mencurigakan melewati rumahnya. ”Tba-tiba saja saya mendengar ada ledakan, begitu saya keluar saya melihat ada asap hitam tebak di halaman rumah,” katanya.

Polisi belum dapat memberikan keterangan lebih detail soal ledakan itu. Polisi hanya mengatakan, hingga kini pihaknya telah memeriksa tiga orang warga sebagai saksi. Salah seorang warga setempat mengatakan, sebelum terjadinya ledakan itu, ia mendengar ada sebuah mobil Mitsubishi Kuda warna merah melintas dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba saja kecepatannya menurun.

”Nah ketika saya intip ke luar rumah, tiba-tiba ada ledakan dan sudah ada asap hitam tebal di depan rumah pak Winardi,” kata Ratmo (42), saksi yang diperiksa polisi itu.

Salah seorang sumber mengatakan, diduga ledakan itu dilakukan oleh salah seorang kakak dari karyawan Winardi yang dipecat dari bengkel. Yang bersangutan berinsial Ivn. Hanya saja, menurut Winardi, soal pemecetan itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan, sehingga tidak mungkin dilakukan mantan karyawannya itu.

”Masalah pemecatan itu sudah selesai. Kami sudah sepakat atur damai secara kekeluargaan. Jadi tidak mungkin ledakan di depan rumah saya itu dilakukan mantan karyawan saya itu,” ujarnya.

Winardi adalah pemilik bengkel sepeda motor di dekat rumahnya di Jalan Garuda. Bengkel. Beberapa minggu lalu, Winardi memecat seorang karyawannya, karena selalu terlambat bekerja.

Lokasi ledakan itu juga, hanya berjarak sekitar 10 meter dari Space Bar dan Lounge, salah satu tempat hiburan malam terbesar di Kota Palu. Hanya saja, polisi menolak menyatakan bahwa ledakan itu ada kaitannya dengan tempat hiburan malam tersebut.***

Tuesday, June 12, 2007

Hilangnya Ritme-Ritme Krambangan di Tanah Poso

Ruslan Sangaji

Krambangan, salah satu jenis musik tradisional Poso. Irama yang dimainkan adalah instrumen-instrumen tradisional. Musik ini mengiring lagu berbalas pantun bagi etnis Pamona dan Mori---etnis asli Poso, Sulawesi Tengah.

Krambangan, dimainkan dengan gitar buatan sendiri. Talinya terbuat dari tali suasa, sehingga menimbulkan irama yang berbeda dengan gitar biasa. Iramanya lebih merdu. Maka tak heran, kalau kemudian musik krambangan dipercaya laksana magnet yang bisa menarik gadis Poso hingga melompat jendela di tengah malam, hanya karena ingin mencari asal irama krambangan itu.

Jenis musik ini hadir untuk melengkapi mozaik budaya di Nusantara. Krambangan, dulunya begitu terkenal, karena ritme-ritmenya juga menjadi pengiring untuk tarian Dero---tarian melingkar yang menggambarkan persaudaraan warga Poso, Muslim dan Kristen.

Yang lebih penting lagi, krambangan menjadi salah satu lambang kejantanan pemuda Poso. Karena, ketika seorang pria memainkan musik krambangan, itu berarti yang bersangkutan sedang mencari pasangan hidupnya. Maka tak heran, kalau kemudian musik krambangan menjadi salah satu alat untuk mencari jodoh.

Begitu terjadinya konflik dahsyat tahun 2000 silam, irama musik krambangan pun sirna seiring dengan sirnanya tarian Dero di Tanah Poso. Hilangnya ritme-ritme krambangan dan tarian dero itu, bukan karena warga tak mau lagi memainkannya. Tapi, karena adanya kelompok garis keras di Poso Kota ketika itu yang melarang adanya tarian dero itu.

"Mereka menganggap, tarian dero itu haram. Tak boleh ada orang berlainan jenis yang bukan muhrim (saudara) saling berpegangan tangan. Makanya dero itu pun dilarang. Begitu dero dilarang, musik krambangan pun kemudian hilang," kata M. Amin Abdullah (40) salah seorang pekerja seni di Palu.

Mohammad Amin Abdullah, lelaki yang menamatkan pendidikan magisternya di Asian Studies, University of Hawaii di Manoa ini, kemudian berusaha mengembangkan kembali krambangan ini. Bahkan, ia kemudian menciptakan irama krambangan kreasi baru yang diberi judul: The Lost of Krambangan.

Pesan yang ingin disampaikan oleh Amin Andullah, adalah kembalikan Krambangan ke Tanah Poso. Krambangan harus kembali ke habitatnya. Seni tidak bersalah dalam sebuah konflik komunal. "Jangan hanya karena kepentingan sesaat orang-orang tertentu, lantas seni tradisional dan budaya kita pun ikut dikorbankan," kata Amin Abdullah.

Menurut Amin Abdullah, karya The Lost of Krambangan ini, mempertahankan apa yang telah ada dan pada saat yang sama memasukkan hal yang baru. Menurut Amin Abdullah, dengan menggunakan musik tradisi sebagai ide dasar, kreasi baru menyimbolkan tradisi dan sekaligus modernitas. “Kreasi baru adalah sebuah proses mentransformasi musik yang dimainkan dalam kehidupan sehari-hari ke atas pentas,” katanya.

KONSEP SINTUWU DALAM IRAMA KRAMBANGAN

Bagi putra kelahiran Palu 40 tahun lalu yang sangat menyintai jenis musik tradisional Poso ini, memasukkan konsep Sintuwu dalam jenis musiknya, termasuk The Hawai’i Kakula Ensemble.

Dalam bahasa Kaili--bahasa lokal Palu dan Poso, Sintuwu berarti menghidupkan secara bersama-sama. Sebuah kata yang lama, Sintuwu mengindikasikan bagaimana aktivitas dalam sebuah tradisi oral berorientasi kelompok, tidak berbasis individual. Sintuwu bersinonim dengan Gotong Royong, yang berarti bekerja sama secara kolektif.

Menurut Amin Abdullah, konsep kolaborasi ini adalah kunci untuk memahami bagaimana komunitas dan orang Indonesia saling bekergantungan sesamanya. Untuk beberapa komposer di Indonesia, proses kreatif untuk membuat komposisi musik merefleksikan hal tersebut.

“Mereka tidak membuat musik sendiri, namun pemain dalam sebuah kelompok mempunyai kontribusi dalam karya,” katanya.

Sintuwu menjadi ideologi dan metode dalam setiap karya Amin Abdullah. Menurut Amin Abdullah yang juga bekerja di Dinas Pendidikan Pengajaran Sulawesi Tengah ini, ada tiga tahap dalam metode Sintuwu, pemain akan menemukan tema, penggarapan karya dalam kolaborasi bersama kelompok dan proses evolusi sebuah karya setelah pementasan pertama.

Bagi Amin Abdullah, ketika ia memulai sebuah komposisi, ia akan datang pada latihan pertama hanya dengan sebuah tema atau konsep musical. Konsep itu didapat berupa bentuk musik, motif, melodi, rhythm pattern, texture, tempo atau ide instrument apa yang akan digunakan.

“Apa yang penting bagi saya adalah apa yang ingin disampaikan melalui karya. Proses pembuatan musik kemudian terjadi pada saat yang sama dengan proses latihan,” ujarnya.

Metode Sintuwu membiarkan musisi untuk bermain sesuai dengan kemampuan mereka, dan memberikan mereka kesempatan untuk berimprovisasi sehingga ia kemudian memberi stimulus.

Metode ini juga memberi penekanan pada interaksi yang intim antar musisi. Untuk itu, dengan metode Sintuwu (bahasa Poso) yang berarti kebersamaan.

Sintuwu menjadi ideologi dan metode dalam setiap karyanya, termasuk The Lost of Krambangan. pegawai negeri sipil di Taman Budaya Palu ini menuturkan, ada tiga tahap dalam metode Sintuwu, pemain akan menemukan tema, penggarapan karya dalam kolaborasi bersama kelompok dan proses evolusi sebuah karya setelah pementasan pertama.

Bagi Amin Abdullah, ketika ia memulai sebuah komposisi, ia akan datang pada latihan pertama hanya dengan sebuah tema atau konsep musical. Konsep itu didapat berupa bentuk musik, motif, melodi, rhythm pattern, texture, tempo atau ide instrument apa yang akan digunakan.

“Apa yang penting bagi saya adalah apa yang ingin disampaikan melalui karya. Proses pembuatan musik kemudian terjadi pada saat yang sama dengan proses latihan,” ujarnya.

Metode Sintuwu membiarkan musisi untuk bermain sesuai dengan kemampuan mereka, dan memberikan mereka kesempatan untuk berimprovisasi sehingga ia kemudian memberi stimulus.

Metode ini juga memberi penekanan pada interaksi yang intim antar musisi. Untuk itu, dengan metode Sintuwu, musisi adalah juga interpreter dan kolaborator, bukan hanya sekedar pemain dan kolaborator.

Komposisi terhitung selesai ketika latihan selesai dan akan terus berkembang setelah pementasan pertama.

Menurut Amin Abdullah, Sintuwu merupakan ikon persaudaraan masyarakat Poso. Semua orang mengaku sebagai saudara, tak ada sekat dan tak ada perbedaan baik etnis maupun agama. Tapi, Sintuwu kini telah tercabik-cabik hanya karena nafsu sesaat kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama untuk mencapai satu tujuan yang mereka sendiri tak paham.

Konsep Sintuwu atau kebersamaan yang diajawantahkan dalam beberapa tradisi budaya Poso seperti Krambangan dan Dero, terbukti sangat mumpuni. Buktinya, meski kelompok garis keras begitu menentangnya, tapi krambangan dan dero tetap tumbuh subur, meski kemudian berhijrah dari Poso ke Palu.

"Saya hanya minta satu saja. Kembalikan Krambangan dan Dero ke negerinya. Sebab, walau ada seribu orang yang melarang di Poso, tapi 10.000 orang akan terus menghidupkannya," tandas Amin Abdullah.***