Sunday, July 29, 2007

Data Korban Tewas Banjir dan Longsor Morowali Simpang Siur

Ruslan Sangadji

PALU - Data korban tewas akibat banjir dan longsor di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah hingga kini masih simpang siur. Sebelumnya, korban tewas diperkirakan mencapai 80 orang. Tapi setelah dicek di lapangan dan berdasarkan laporan dari sejumlah kepala desa, ternyata yang meninggal dunia tercatat 74 orang.

"Hingga Minggu (29/7) pagi, korban yang meninggal dunia dan sudah ditemukan jenazahnya, sebanyak 74 orang. Data ini berdasarkan laporan dari para kepala desa kepada saya," kata Bupati Morowali, Datlin Tamalagi melalui telepon selular kepada The Jakarta Post, Minggu siang.

Sementara data yang ditulis Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, menyebutkan bahwa korban meninggal dunia hingga Sabtu (28/7) telah mencapai 72 orang.

"Itu tidak benar. Sampai Sabtu kemarin, korban yang meninggal dunia baru 70 orang. Empat orang lainnya baru ditemukan pada Minggu (29/7) pagi," tegas Bupati Morowali dengan suara keras.

Empat orang yang ditemukan Minggu pagi itu, katanya, tiga orang dewasa dan satu bayi. Dan yang paling menyedihkan adalah saat ditemukan di dalam timbunan lumpur longsor itu, bayi tersebut masih tetap dalam pelukan ibunya.

"Bayi tersebut tidak lepas dari pelukan ibunya. Itu yang membuat saya sedih. Empat korban itu ditemukan di Desa Mamo, Kecamatan Mamosalato," kata Bupati Datlin Tamalagi.

Sementara itu, dalam rapat yang dipimpin Gubernur Sulawesi Tengah, Bandjela Paliudju di Baturube, Kecamatan Bungku Utara, Sabtu (28/7) lalu, memperkirakan korban tewas mencapai 116 orang, dan 90 orang di antaranya masih dalam proses pencarian.

"Data itu masih dugaan dan belum pasti, karena saat ini masih terus dilakukan upaya pencarian," kata Gubernur Sulteng.

Sedangkan data dari kepolisian menyebutkan bahwa korban yang diperkirakan tewas mencapai 121 orang. Lagi-lagi menurut Kapolres Morowali, Ajun Komisaris Besar Polisi Sri Suhartono, data korban tewas itu belum dapat dipastikan, karena proses evakuasi juga masih sedang dilakukan.

Mengenai distribusi bantuan, Bupati Morowali mengatakan, sehubungan sudah mulai membaiknya cuaca dalam dua hari terakhir ini, akhirnya distribusi bantuan itu sudah mulai lancar. Sejumlah desa yang sebelumnya masih terisolir, kini sudah dapat dijangkau.

Meski begitu, menurut Bupati Datlin Tamalagi bahwa pihaknya masih sangat membutuhkan obat-obatan. Karena saat ini sudah banyak pengungsi yang terjangkit penyakit penyakit, dan juga banyak yang patah tulang. "Kita sangat membutuhkan bantuan obat-obatan saat ini," tuturnya.

Tim relawan kedokteran dari Universitas Hasanuddin, Makassar, kata Bupati Tamalgi, saat ini sejak Sabtu kemarin sudah tiba di lokasi dan sudah mulai bekerja. Mereka saat ini membuka posko kesehatan di Baturube dan terus ikut memberikan pelayanan kesehatan di sejumlah desa.

Untuk membuka isolasi, Pemerintah Kabupaten Mororwali telah memobilisasi sedikitnya enam unit kendaraan alat berat untuk merehabilitasi jalan dari Desa Kolo Atas ke Desa Kolo Bawah di Kecamatan Bungku Utara.

Bahkan, pemerintah setempat telah meminjam Landing Shift Tank (LST) dari PT Medco di Tiaka, Kabupaten Banggai, untuk mengangkut alat berat menuju Ueruru, lokasi yang paling parah diterjang longsor. "Saat ini, LST itu sudah bergerak menuju Desa Ueruru," katanya Bupati.***

No comments: